<?xml version="1.0"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="en">
	<id>https://esi.kemenbud.go.id/index.php?action=history&amp;feed=atom&amp;title=Abikoesno_Tjokrosoejoso</id>
	<title>Abikoesno Tjokrosoejoso - Revision history</title>
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://esi.kemenbud.go.id/index.php?action=history&amp;feed=atom&amp;title=Abikoesno_Tjokrosoejoso"/>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://esi.kemenbud.go.id/index.php?title=Abikoesno_Tjokrosoejoso&amp;action=history"/>
	<updated>2026-07-13T15:34:59Z</updated>
	<subtitle>Revision history for this page on the wiki</subtitle>
	<generator>MediaWiki 1.40.0</generator>
	<entry>
		<id>https://esi.kemenbud.go.id/index.php?title=Abikoesno_Tjokrosoejoso&amp;diff=5998&amp;oldid=prev</id>
		<title>Admin at 09:08, 12 August 2024</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://esi.kemenbud.go.id/index.php?title=Abikoesno_Tjokrosoejoso&amp;diff=5998&amp;oldid=prev"/>
		<updated>2024-08-12T09:08:03Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;&lt;/p&gt;
&lt;table style=&quot;background-color: #fff; color: #202122;&quot; data-mw=&quot;interface&quot;&gt;
				&lt;col class=&quot;diff-marker&quot; /&gt;
				&lt;col class=&quot;diff-content&quot; /&gt;
				&lt;col class=&quot;diff-marker&quot; /&gt;
				&lt;col class=&quot;diff-content&quot; /&gt;
				&lt;tr class=&quot;diff-title&quot; lang=&quot;en&quot;&gt;
				&lt;td colspan=&quot;2&quot; style=&quot;background-color: #fff; color: #202122; text-align: center;&quot;&gt;← Older revision&lt;/td&gt;
				&lt;td colspan=&quot;2&quot; style=&quot;background-color: #fff; color: #202122; text-align: center;&quot;&gt;Revision as of 16:08, 12 August 2024&lt;/td&gt;
				&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td colspan=&quot;2&quot; class=&quot;diff-lineno&quot; id=&quot;mw-diff-left-l12&quot;&gt;Line 12:&lt;/td&gt;
&lt;td colspan=&quot;2&quot; class=&quot;diff-lineno&quot;&gt;Line 12:&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Pada masa pendudukan Jepang di tahun 1942, dibentuk Gerakan 3A yang memiliki semboyan &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Cahaya Asia, &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Pelindung Asia, dan &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Pemimpin Asia. Gerakan tersebut bertujuan menanamkan semangat membela Jepang. Jepang menunjuk Mr. Syamsudin sebagai pemimpin Gerakan 3A. Pada bulan Juli 1942 dibentuk suatu sub seksi Islam dengan Persiapan Persatuan Umat Islam dalam Gerakan 3A. Sebagai ketuanya ialah Abikoesno Tjokrosoejoso. Akan tetapi, ternyata Gerakan 3A tidak mendapat sambutan rakyat dan akhirnya dibubarkan. Sebagai gantinya, dibentuklah organisasi Putera (Pusat Tenaga Rakyat). Abikoesno juga masuk sebagai anggota Putera. Selain itu, pada masa pendudukan Jepang, ia menjadi anggota &amp;#039;&amp;#039;Chuo Sangi-in&amp;#039;&amp;#039; (Dewan pertimbangan pusat) sebagai wakil dari golongan Islam. Anggota lain berasal dari golongan nasionalis sekuler seperti Buntaran Martoatmodjo, Ki Hadjar Dewantara, Moh. Hatta, Rasjid, Samsi, R. M. Sartono, Singgih, Soekardjo, Soewandi, Supomo, dan Woerjaningrat (Ichwan, 2011: 5).&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Pada masa pendudukan Jepang di tahun 1942, dibentuk Gerakan 3A yang memiliki semboyan &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Cahaya Asia, &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Pelindung Asia, dan &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Pemimpin Asia. Gerakan tersebut bertujuan menanamkan semangat membela Jepang. Jepang menunjuk Mr. Syamsudin sebagai pemimpin Gerakan 3A. Pada bulan Juli 1942 dibentuk suatu sub seksi Islam dengan Persiapan Persatuan Umat Islam dalam Gerakan 3A. Sebagai ketuanya ialah Abikoesno Tjokrosoejoso. Akan tetapi, ternyata Gerakan 3A tidak mendapat sambutan rakyat dan akhirnya dibubarkan. Sebagai gantinya, dibentuklah organisasi Putera (Pusat Tenaga Rakyat). Abikoesno juga masuk sebagai anggota Putera. Selain itu, pada masa pendudukan Jepang, ia menjadi anggota &amp;#039;&amp;#039;Chuo Sangi-in&amp;#039;&amp;#039; (Dewan pertimbangan pusat) sebagai wakil dari golongan Islam. Anggota lain berasal dari golongan nasionalis sekuler seperti Buntaran Martoatmodjo, Ki Hadjar Dewantara, Moh. Hatta, Rasjid, Samsi, R. M. Sartono, Singgih, Soekardjo, Soewandi, Supomo, dan Woerjaningrat (Ichwan, 2011: 5).&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br/&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br/&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot; data-marker=&quot;−&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #ffe49c; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Oleh karena posisi Jepang mulai terjepit dalam perang, Jepang menjanjikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia dengan membentuk Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang resmi dibentuk pada tanggal 29 April 1945. Anggota yang merepresentasikan kelompok Islam adalah Abikoesno Tjokrosoejoso, Ki Bagus Hadikusumo, KH Abdul Wahid Hasyim, Kahar Muzakkir, H. Agus Salim, and KH Ahmad Sanusi. Sedangkan kelompok nasionalis direpresentasikan oleh Sukarno, Mohammad Hatta, Soepomo, dan Muhammad Yamin. Upaya untuk mencapai resolusi mempersiapkan dasar negara tidak bisa diselesaikan oleh BPUPKI sehingga dibentuk Komite Panitia Sembilan yang berdiri pada 10 Juli 1945. Komite tersebut terdiri dari Sukarno, Mohammad Hatta, Achmad Subardjo, Muhammad Yamin, A.A. Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Kahar Muzakkir, Agus Salim dan Wahid Hasjim. Setelah melewati perdebatan yang sangat alot, akhirnya pada 22 Juni 1945 Panitia Sembilan berhasil merumuskan rancangan undang-undang dasar yang kelak disebut sebagai Piagam Jakarta. BPUPKI memfinalisasikannya melalui beberapa perubahan, termasuk mengganti sila pertama dasar negara (Pancasila) dari “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” menjadi “Ketuhanan yang maha esa”. Pada saat rapat memasuki sesi pembahasan sumpah presiden, Abikusno memberikan usul pertama, dan diterima melalui beberapa perubahan. Fakta ini membuat Abikusno juga memperoleh gelar “penggagas sumpah presiden” (Kharisma, 2021).[[File:Anggota Panitia Sembilan.jpg|center|Anggota Panitia Sembilan. (Sumber: Dok. Museum Perumusan Naskah Proklamasi)|link=|thumb|&lt;del style=&quot;font-weight: bold; text-decoration: none;&quot;&gt;600x600px&lt;/del&gt;]]&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot; data-marker=&quot;+&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #a3d3ff; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Oleh karena posisi Jepang mulai terjepit dalam perang, Jepang menjanjikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia dengan membentuk Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang resmi dibentuk pada tanggal 29 April 1945. Anggota yang merepresentasikan kelompok Islam adalah Abikoesno Tjokrosoejoso, Ki Bagus Hadikusumo, KH Abdul Wahid Hasyim, Kahar Muzakkir, H. Agus Salim, and KH Ahmad Sanusi. Sedangkan kelompok nasionalis direpresentasikan oleh Sukarno, Mohammad Hatta, Soepomo, dan Muhammad Yamin. Upaya untuk mencapai resolusi mempersiapkan dasar negara tidak bisa diselesaikan oleh BPUPKI sehingga dibentuk Komite Panitia Sembilan yang berdiri pada 10 Juli 1945. Komite tersebut terdiri dari Sukarno, Mohammad Hatta, Achmad Subardjo, Muhammad Yamin, A.A. Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Kahar Muzakkir, Agus Salim dan Wahid Hasjim. Setelah melewati perdebatan yang sangat alot, akhirnya pada 22 Juni 1945 Panitia Sembilan berhasil merumuskan rancangan undang-undang dasar yang kelak disebut sebagai Piagam Jakarta. BPUPKI memfinalisasikannya melalui beberapa perubahan, termasuk mengganti sila pertama dasar negara (Pancasila) dari “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” menjadi “Ketuhanan yang maha esa”. Pada saat rapat memasuki sesi pembahasan sumpah presiden, Abikusno memberikan usul pertama, dan diterima melalui beberapa perubahan. Fakta ini membuat Abikusno juga memperoleh gelar “penggagas sumpah presiden” (Kharisma, 2021).[[File:Anggota Panitia Sembilan.jpg|center|Anggota Panitia Sembilan. (Sumber: Dok. Museum Perumusan Naskah Proklamasi)|link=|thumb|&lt;ins style=&quot;font-weight: bold; text-decoration: none;&quot;&gt;700x700px&lt;/ins&gt;]]&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br/&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br/&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Pada kabinet pertama Presiden Sukarno, Abikoesno tercatat menduduki kursi Menteri Perhubungan tanggal 19 Agustus 1945. Nama Abikoesno Tjokrosoejoso sempat dikaitkan dengan peristiwa 3 Juli 1946 yang disebut-sebut sebagai usaha kudeta pertama di Indonesia. Ketika itu kelompok Persatuan Perjuangan dibawah pimpinan Tan Malaka melakukan percobaan kudeta untuk menurunkan Kabinet Sjahrir. Namun organisasi tersebut berhasil dibubarkan dan tokoh-tokoh utamanya ditangkap—termasuk Abikoesno. Penahanan Abikoesno sempat berpindah-pindah, antara lain dari Tawangmangu, Ponorogo, lalu ke Madiun. Ia ditahan bersama Moh. Yamin, Buntaran Martoatmodjo, Achmad Subardjo, Iwa Kusuma Sumantri dan Tan Malaka. Para tahanan ini diberi grasi dan dibebaskan pada 17 Agustus 1948.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Pada kabinet pertama Presiden Sukarno, Abikoesno tercatat menduduki kursi Menteri Perhubungan tanggal 19 Agustus 1945. Nama Abikoesno Tjokrosoejoso sempat dikaitkan dengan peristiwa 3 Juli 1946 yang disebut-sebut sebagai usaha kudeta pertama di Indonesia. Ketika itu kelompok Persatuan Perjuangan dibawah pimpinan Tan Malaka melakukan percobaan kudeta untuk menurunkan Kabinet Sjahrir. Namun organisasi tersebut berhasil dibubarkan dan tokoh-tokoh utamanya ditangkap—termasuk Abikoesno. Penahanan Abikoesno sempat berpindah-pindah, antara lain dari Tawangmangu, Ponorogo, lalu ke Madiun. Ia ditahan bersama Moh. Yamin, Buntaran Martoatmodjo, Achmad Subardjo, Iwa Kusuma Sumantri dan Tan Malaka. Para tahanan ini diberi grasi dan dibebaskan pada 17 Agustus 1948.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/table&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://esi.kemenbud.go.id/index.php?title=Abikoesno_Tjokrosoejoso&amp;diff=5997&amp;oldid=prev</id>
		<title>Admin at 09:07, 12 August 2024</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://esi.kemenbud.go.id/index.php?title=Abikoesno_Tjokrosoejoso&amp;diff=5997&amp;oldid=prev"/>
		<updated>2024-08-12T09:07:33Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;&lt;/p&gt;
&lt;table style=&quot;background-color: #fff; color: #202122;&quot; data-mw=&quot;interface&quot;&gt;
				&lt;col class=&quot;diff-marker&quot; /&gt;
				&lt;col class=&quot;diff-content&quot; /&gt;
				&lt;col class=&quot;diff-marker&quot; /&gt;
				&lt;col class=&quot;diff-content&quot; /&gt;
				&lt;tr class=&quot;diff-title&quot; lang=&quot;en&quot;&gt;
				&lt;td colspan=&quot;2&quot; style=&quot;background-color: #fff; color: #202122; text-align: center;&quot;&gt;← Older revision&lt;/td&gt;
				&lt;td colspan=&quot;2&quot; style=&quot;background-color: #fff; color: #202122; text-align: center;&quot;&gt;Revision as of 16:07, 12 August 2024&lt;/td&gt;
				&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td colspan=&quot;2&quot; class=&quot;diff-lineno&quot; id=&quot;mw-diff-left-l12&quot;&gt;Line 12:&lt;/td&gt;
&lt;td colspan=&quot;2&quot; class=&quot;diff-lineno&quot;&gt;Line 12:&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Pada masa pendudukan Jepang di tahun 1942, dibentuk Gerakan 3A yang memiliki semboyan &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Cahaya Asia, &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Pelindung Asia, dan &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Pemimpin Asia. Gerakan tersebut bertujuan menanamkan semangat membela Jepang. Jepang menunjuk Mr. Syamsudin sebagai pemimpin Gerakan 3A. Pada bulan Juli 1942 dibentuk suatu sub seksi Islam dengan Persiapan Persatuan Umat Islam dalam Gerakan 3A. Sebagai ketuanya ialah Abikoesno Tjokrosoejoso. Akan tetapi, ternyata Gerakan 3A tidak mendapat sambutan rakyat dan akhirnya dibubarkan. Sebagai gantinya, dibentuklah organisasi Putera (Pusat Tenaga Rakyat). Abikoesno juga masuk sebagai anggota Putera. Selain itu, pada masa pendudukan Jepang, ia menjadi anggota &amp;#039;&amp;#039;Chuo Sangi-in&amp;#039;&amp;#039; (Dewan pertimbangan pusat) sebagai wakil dari golongan Islam. Anggota lain berasal dari golongan nasionalis sekuler seperti Buntaran Martoatmodjo, Ki Hadjar Dewantara, Moh. Hatta, Rasjid, Samsi, R. M. Sartono, Singgih, Soekardjo, Soewandi, Supomo, dan Woerjaningrat (Ichwan, 2011: 5).&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Pada masa pendudukan Jepang di tahun 1942, dibentuk Gerakan 3A yang memiliki semboyan &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Cahaya Asia, &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Pelindung Asia, dan &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Pemimpin Asia. Gerakan tersebut bertujuan menanamkan semangat membela Jepang. Jepang menunjuk Mr. Syamsudin sebagai pemimpin Gerakan 3A. Pada bulan Juli 1942 dibentuk suatu sub seksi Islam dengan Persiapan Persatuan Umat Islam dalam Gerakan 3A. Sebagai ketuanya ialah Abikoesno Tjokrosoejoso. Akan tetapi, ternyata Gerakan 3A tidak mendapat sambutan rakyat dan akhirnya dibubarkan. Sebagai gantinya, dibentuklah organisasi Putera (Pusat Tenaga Rakyat). Abikoesno juga masuk sebagai anggota Putera. Selain itu, pada masa pendudukan Jepang, ia menjadi anggota &amp;#039;&amp;#039;Chuo Sangi-in&amp;#039;&amp;#039; (Dewan pertimbangan pusat) sebagai wakil dari golongan Islam. Anggota lain berasal dari golongan nasionalis sekuler seperti Buntaran Martoatmodjo, Ki Hadjar Dewantara, Moh. Hatta, Rasjid, Samsi, R. M. Sartono, Singgih, Soekardjo, Soewandi, Supomo, dan Woerjaningrat (Ichwan, 2011: 5).&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br/&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br/&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot; data-marker=&quot;−&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #ffe49c; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Oleh karena posisi Jepang mulai terjepit dalam perang, Jepang menjanjikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia dengan membentuk Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang resmi dibentuk pada tanggal 29 April 1945. Anggota yang merepresentasikan kelompok Islam adalah Abikoesno Tjokrosoejoso, Ki Bagus Hadikusumo, KH Abdul Wahid Hasyim, Kahar Muzakkir, H. Agus Salim, and KH Ahmad Sanusi. Sedangkan kelompok nasionalis direpresentasikan oleh Sukarno, Mohammad Hatta, Soepomo, dan Muhammad Yamin. Upaya untuk mencapai resolusi mempersiapkan dasar negara tidak bisa diselesaikan oleh BPUPKI sehingga dibentuk Komite Panitia Sembilan yang berdiri pada 10 Juli 1945. Komite tersebut terdiri dari Sukarno, Mohammad Hatta, Achmad Subardjo, Muhammad Yamin, A.A. Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Kahar Muzakkir, Agus Salim dan Wahid Hasjim. Setelah melewati perdebatan yang sangat alot, akhirnya pada 22 Juni 1945 Panitia Sembilan berhasil merumuskan rancangan undang-undang dasar yang kelak disebut sebagai Piagam Jakarta. BPUPKI memfinalisasikannya melalui beberapa perubahan, termasuk mengganti sila pertama dasar negara (Pancasila) dari “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” menjadi “Ketuhanan yang maha esa”. Pada saat rapat memasuki sesi pembahasan sumpah presiden, Abikusno memberikan usul pertama, dan diterima melalui beberapa perubahan. Fakta ini membuat Abikusno juga memperoleh gelar “penggagas sumpah presiden” (Kharisma, 2021).[[File:Anggota Panitia Sembilan.jpg|center|Anggota Panitia Sembilan. (Sumber: Dok. Museum Perumusan Naskah Proklamasi)|link=|thumb|&lt;del style=&quot;font-weight: bold; text-decoration: none;&quot;&gt;500x500px&lt;/del&gt;]]&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot; data-marker=&quot;+&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #a3d3ff; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Oleh karena posisi Jepang mulai terjepit dalam perang, Jepang menjanjikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia dengan membentuk Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang resmi dibentuk pada tanggal 29 April 1945. Anggota yang merepresentasikan kelompok Islam adalah Abikoesno Tjokrosoejoso, Ki Bagus Hadikusumo, KH Abdul Wahid Hasyim, Kahar Muzakkir, H. Agus Salim, and KH Ahmad Sanusi. Sedangkan kelompok nasionalis direpresentasikan oleh Sukarno, Mohammad Hatta, Soepomo, dan Muhammad Yamin. Upaya untuk mencapai resolusi mempersiapkan dasar negara tidak bisa diselesaikan oleh BPUPKI sehingga dibentuk Komite Panitia Sembilan yang berdiri pada 10 Juli 1945. Komite tersebut terdiri dari Sukarno, Mohammad Hatta, Achmad Subardjo, Muhammad Yamin, A.A. Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Kahar Muzakkir, Agus Salim dan Wahid Hasjim. Setelah melewati perdebatan yang sangat alot, akhirnya pada 22 Juni 1945 Panitia Sembilan berhasil merumuskan rancangan undang-undang dasar yang kelak disebut sebagai Piagam Jakarta. BPUPKI memfinalisasikannya melalui beberapa perubahan, termasuk mengganti sila pertama dasar negara (Pancasila) dari “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” menjadi “Ketuhanan yang maha esa”. Pada saat rapat memasuki sesi pembahasan sumpah presiden, Abikusno memberikan usul pertama, dan diterima melalui beberapa perubahan. Fakta ini membuat Abikusno juga memperoleh gelar “penggagas sumpah presiden” (Kharisma, 2021).[[File:Anggota Panitia Sembilan.jpg|center|Anggota Panitia Sembilan. (Sumber: Dok. Museum Perumusan Naskah Proklamasi)|link=|thumb|&lt;ins style=&quot;font-weight: bold; text-decoration: none;&quot;&gt;600x600px&lt;/ins&gt;]]&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br/&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br/&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Pada kabinet pertama Presiden Sukarno, Abikoesno tercatat menduduki kursi Menteri Perhubungan tanggal 19 Agustus 1945. Nama Abikoesno Tjokrosoejoso sempat dikaitkan dengan peristiwa 3 Juli 1946 yang disebut-sebut sebagai usaha kudeta pertama di Indonesia. Ketika itu kelompok Persatuan Perjuangan dibawah pimpinan Tan Malaka melakukan percobaan kudeta untuk menurunkan Kabinet Sjahrir. Namun organisasi tersebut berhasil dibubarkan dan tokoh-tokoh utamanya ditangkap—termasuk Abikoesno. Penahanan Abikoesno sempat berpindah-pindah, antara lain dari Tawangmangu, Ponorogo, lalu ke Madiun. Ia ditahan bersama Moh. Yamin, Buntaran Martoatmodjo, Achmad Subardjo, Iwa Kusuma Sumantri dan Tan Malaka. Para tahanan ini diberi grasi dan dibebaskan pada 17 Agustus 1948.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Pada kabinet pertama Presiden Sukarno, Abikoesno tercatat menduduki kursi Menteri Perhubungan tanggal 19 Agustus 1945. Nama Abikoesno Tjokrosoejoso sempat dikaitkan dengan peristiwa 3 Juli 1946 yang disebut-sebut sebagai usaha kudeta pertama di Indonesia. Ketika itu kelompok Persatuan Perjuangan dibawah pimpinan Tan Malaka melakukan percobaan kudeta untuk menurunkan Kabinet Sjahrir. Namun organisasi tersebut berhasil dibubarkan dan tokoh-tokoh utamanya ditangkap—termasuk Abikoesno. Penahanan Abikoesno sempat berpindah-pindah, antara lain dari Tawangmangu, Ponorogo, lalu ke Madiun. Ia ditahan bersama Moh. Yamin, Buntaran Martoatmodjo, Achmad Subardjo, Iwa Kusuma Sumantri dan Tan Malaka. Para tahanan ini diberi grasi dan dibebaskan pada 17 Agustus 1948.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/table&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://esi.kemenbud.go.id/index.php?title=Abikoesno_Tjokrosoejoso&amp;diff=5996&amp;oldid=prev</id>
		<title>Admin at 09:07, 12 August 2024</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://esi.kemenbud.go.id/index.php?title=Abikoesno_Tjokrosoejoso&amp;diff=5996&amp;oldid=prev"/>
		<updated>2024-08-12T09:07:02Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;&lt;/p&gt;
&lt;table style=&quot;background-color: #fff; color: #202122;&quot; data-mw=&quot;interface&quot;&gt;
				&lt;col class=&quot;diff-marker&quot; /&gt;
				&lt;col class=&quot;diff-content&quot; /&gt;
				&lt;col class=&quot;diff-marker&quot; /&gt;
				&lt;col class=&quot;diff-content&quot; /&gt;
				&lt;tr class=&quot;diff-title&quot; lang=&quot;en&quot;&gt;
				&lt;td colspan=&quot;2&quot; style=&quot;background-color: #fff; color: #202122; text-align: center;&quot;&gt;← Older revision&lt;/td&gt;
				&lt;td colspan=&quot;2&quot; style=&quot;background-color: #fff; color: #202122; text-align: center;&quot;&gt;Revision as of 16:07, 12 August 2024&lt;/td&gt;
				&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td colspan=&quot;2&quot; class=&quot;diff-lineno&quot; id=&quot;mw-diff-left-l12&quot;&gt;Line 12:&lt;/td&gt;
&lt;td colspan=&quot;2&quot; class=&quot;diff-lineno&quot;&gt;Line 12:&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Pada masa pendudukan Jepang di tahun 1942, dibentuk Gerakan 3A yang memiliki semboyan &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Cahaya Asia, &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Pelindung Asia, dan &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Pemimpin Asia. Gerakan tersebut bertujuan menanamkan semangat membela Jepang. Jepang menunjuk Mr. Syamsudin sebagai pemimpin Gerakan 3A. Pada bulan Juli 1942 dibentuk suatu sub seksi Islam dengan Persiapan Persatuan Umat Islam dalam Gerakan 3A. Sebagai ketuanya ialah Abikoesno Tjokrosoejoso. Akan tetapi, ternyata Gerakan 3A tidak mendapat sambutan rakyat dan akhirnya dibubarkan. Sebagai gantinya, dibentuklah organisasi Putera (Pusat Tenaga Rakyat). Abikoesno juga masuk sebagai anggota Putera. Selain itu, pada masa pendudukan Jepang, ia menjadi anggota &amp;#039;&amp;#039;Chuo Sangi-in&amp;#039;&amp;#039; (Dewan pertimbangan pusat) sebagai wakil dari golongan Islam. Anggota lain berasal dari golongan nasionalis sekuler seperti Buntaran Martoatmodjo, Ki Hadjar Dewantara, Moh. Hatta, Rasjid, Samsi, R. M. Sartono, Singgih, Soekardjo, Soewandi, Supomo, dan Woerjaningrat (Ichwan, 2011: 5).&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Pada masa pendudukan Jepang di tahun 1942, dibentuk Gerakan 3A yang memiliki semboyan &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Cahaya Asia, &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Pelindung Asia, dan &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Pemimpin Asia. Gerakan tersebut bertujuan menanamkan semangat membela Jepang. Jepang menunjuk Mr. Syamsudin sebagai pemimpin Gerakan 3A. Pada bulan Juli 1942 dibentuk suatu sub seksi Islam dengan Persiapan Persatuan Umat Islam dalam Gerakan 3A. Sebagai ketuanya ialah Abikoesno Tjokrosoejoso. Akan tetapi, ternyata Gerakan 3A tidak mendapat sambutan rakyat dan akhirnya dibubarkan. Sebagai gantinya, dibentuklah organisasi Putera (Pusat Tenaga Rakyat). Abikoesno juga masuk sebagai anggota Putera. Selain itu, pada masa pendudukan Jepang, ia menjadi anggota &amp;#039;&amp;#039;Chuo Sangi-in&amp;#039;&amp;#039; (Dewan pertimbangan pusat) sebagai wakil dari golongan Islam. Anggota lain berasal dari golongan nasionalis sekuler seperti Buntaran Martoatmodjo, Ki Hadjar Dewantara, Moh. Hatta, Rasjid, Samsi, R. M. Sartono, Singgih, Soekardjo, Soewandi, Supomo, dan Woerjaningrat (Ichwan, 2011: 5).&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br/&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br/&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot; data-marker=&quot;−&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #ffe49c; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Oleh karena posisi Jepang mulai terjepit dalam perang, Jepang menjanjikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia dengan membentuk Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang resmi dibentuk pada tanggal 29 April 1945. Anggota yang merepresentasikan kelompok Islam adalah Abikoesno Tjokrosoejoso, Ki Bagus Hadikusumo, KH Abdul Wahid Hasyim, Kahar Muzakkir, H. Agus Salim, and KH Ahmad Sanusi. Sedangkan kelompok nasionalis direpresentasikan oleh Sukarno, Mohammad Hatta, Soepomo, dan Muhammad Yamin. Upaya untuk mencapai resolusi mempersiapkan dasar negara tidak bisa diselesaikan oleh BPUPKI sehingga dibentuk Komite Panitia Sembilan yang berdiri pada 10 Juli 1945. Komite tersebut terdiri dari Sukarno, Mohammad Hatta, Achmad Subardjo, Muhammad Yamin, A.A. Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Kahar Muzakkir, Agus Salim dan Wahid Hasjim. Setelah melewati perdebatan yang sangat alot, akhirnya pada 22 Juni 1945 Panitia Sembilan berhasil merumuskan rancangan undang-undang dasar yang kelak disebut sebagai Piagam Jakarta. BPUPKI memfinalisasikannya melalui beberapa perubahan, termasuk mengganti sila pertama dasar negara (Pancasila) dari “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” menjadi “Ketuhanan yang maha esa”. Pada saat rapat memasuki sesi pembahasan sumpah presiden, Abikusno memberikan usul pertama, dan diterima melalui beberapa perubahan. Fakta ini membuat Abikusno juga memperoleh gelar “penggagas sumpah presiden” (Kharisma, 2021).[[File:Anggota Panitia Sembilan.jpg|center|Anggota Panitia Sembilan. (Sumber: Dok. Museum Perumusan Naskah Proklamasi)|link=|thumb|&lt;del style=&quot;font-weight: bold; text-decoration: none;&quot;&gt;499x499px&lt;/del&gt;]]&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot; data-marker=&quot;+&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #a3d3ff; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Oleh karena posisi Jepang mulai terjepit dalam perang, Jepang menjanjikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia dengan membentuk Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang resmi dibentuk pada tanggal 29 April 1945. Anggota yang merepresentasikan kelompok Islam adalah Abikoesno Tjokrosoejoso, Ki Bagus Hadikusumo, KH Abdul Wahid Hasyim, Kahar Muzakkir, H. Agus Salim, and KH Ahmad Sanusi. Sedangkan kelompok nasionalis direpresentasikan oleh Sukarno, Mohammad Hatta, Soepomo, dan Muhammad Yamin. Upaya untuk mencapai resolusi mempersiapkan dasar negara tidak bisa diselesaikan oleh BPUPKI sehingga dibentuk Komite Panitia Sembilan yang berdiri pada 10 Juli 1945. Komite tersebut terdiri dari Sukarno, Mohammad Hatta, Achmad Subardjo, Muhammad Yamin, A.A. Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Kahar Muzakkir, Agus Salim dan Wahid Hasjim. Setelah melewati perdebatan yang sangat alot, akhirnya pada 22 Juni 1945 Panitia Sembilan berhasil merumuskan rancangan undang-undang dasar yang kelak disebut sebagai Piagam Jakarta. BPUPKI memfinalisasikannya melalui beberapa perubahan, termasuk mengganti sila pertama dasar negara (Pancasila) dari “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” menjadi “Ketuhanan yang maha esa”. Pada saat rapat memasuki sesi pembahasan sumpah presiden, Abikusno memberikan usul pertama, dan diterima melalui beberapa perubahan. Fakta ini membuat Abikusno juga memperoleh gelar “penggagas sumpah presiden” (Kharisma, 2021).[[File:Anggota Panitia Sembilan.jpg|center|Anggota Panitia Sembilan. (Sumber: Dok. Museum Perumusan Naskah Proklamasi)|link=|thumb|&lt;ins style=&quot;font-weight: bold; text-decoration: none;&quot;&gt;500x500px&lt;/ins&gt;]]&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br/&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br/&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Pada kabinet pertama Presiden Sukarno, Abikoesno tercatat menduduki kursi Menteri Perhubungan tanggal 19 Agustus 1945. Nama Abikoesno Tjokrosoejoso sempat dikaitkan dengan peristiwa 3 Juli 1946 yang disebut-sebut sebagai usaha kudeta pertama di Indonesia. Ketika itu kelompok Persatuan Perjuangan dibawah pimpinan Tan Malaka melakukan percobaan kudeta untuk menurunkan Kabinet Sjahrir. Namun organisasi tersebut berhasil dibubarkan dan tokoh-tokoh utamanya ditangkap—termasuk Abikoesno. Penahanan Abikoesno sempat berpindah-pindah, antara lain dari Tawangmangu, Ponorogo, lalu ke Madiun. Ia ditahan bersama Moh. Yamin, Buntaran Martoatmodjo, Achmad Subardjo, Iwa Kusuma Sumantri dan Tan Malaka. Para tahanan ini diberi grasi dan dibebaskan pada 17 Agustus 1948.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Pada kabinet pertama Presiden Sukarno, Abikoesno tercatat menduduki kursi Menteri Perhubungan tanggal 19 Agustus 1945. Nama Abikoesno Tjokrosoejoso sempat dikaitkan dengan peristiwa 3 Juli 1946 yang disebut-sebut sebagai usaha kudeta pertama di Indonesia. Ketika itu kelompok Persatuan Perjuangan dibawah pimpinan Tan Malaka melakukan percobaan kudeta untuk menurunkan Kabinet Sjahrir. Namun organisasi tersebut berhasil dibubarkan dan tokoh-tokoh utamanya ditangkap—termasuk Abikoesno. Penahanan Abikoesno sempat berpindah-pindah, antara lain dari Tawangmangu, Ponorogo, lalu ke Madiun. Ia ditahan bersama Moh. Yamin, Buntaran Martoatmodjo, Achmad Subardjo, Iwa Kusuma Sumantri dan Tan Malaka. Para tahanan ini diberi grasi dan dibebaskan pada 17 Agustus 1948.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/table&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://esi.kemenbud.go.id/index.php?title=Abikoesno_Tjokrosoejoso&amp;diff=5994&amp;oldid=prev</id>
		<title>Admin at 09:06, 12 August 2024</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://esi.kemenbud.go.id/index.php?title=Abikoesno_Tjokrosoejoso&amp;diff=5994&amp;oldid=prev"/>
		<updated>2024-08-12T09:06:38Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;&lt;/p&gt;
&lt;table style=&quot;background-color: #fff; color: #202122;&quot; data-mw=&quot;interface&quot;&gt;
				&lt;col class=&quot;diff-marker&quot; /&gt;
				&lt;col class=&quot;diff-content&quot; /&gt;
				&lt;col class=&quot;diff-marker&quot; /&gt;
				&lt;col class=&quot;diff-content&quot; /&gt;
				&lt;tr class=&quot;diff-title&quot; lang=&quot;en&quot;&gt;
				&lt;td colspan=&quot;2&quot; style=&quot;background-color: #fff; color: #202122; text-align: center;&quot;&gt;← Older revision&lt;/td&gt;
				&lt;td colspan=&quot;2&quot; style=&quot;background-color: #fff; color: #202122; text-align: center;&quot;&gt;Revision as of 16:06, 12 August 2024&lt;/td&gt;
				&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td colspan=&quot;2&quot; class=&quot;diff-lineno&quot; id=&quot;mw-diff-left-l12&quot;&gt;Line 12:&lt;/td&gt;
&lt;td colspan=&quot;2&quot; class=&quot;diff-lineno&quot;&gt;Line 12:&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Pada masa pendudukan Jepang di tahun 1942, dibentuk Gerakan 3A yang memiliki semboyan &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Cahaya Asia, &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Pelindung Asia, dan &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Pemimpin Asia. Gerakan tersebut bertujuan menanamkan semangat membela Jepang. Jepang menunjuk Mr. Syamsudin sebagai pemimpin Gerakan 3A. Pada bulan Juli 1942 dibentuk suatu sub seksi Islam dengan Persiapan Persatuan Umat Islam dalam Gerakan 3A. Sebagai ketuanya ialah Abikoesno Tjokrosoejoso. Akan tetapi, ternyata Gerakan 3A tidak mendapat sambutan rakyat dan akhirnya dibubarkan. Sebagai gantinya, dibentuklah organisasi Putera (Pusat Tenaga Rakyat). Abikoesno juga masuk sebagai anggota Putera. Selain itu, pada masa pendudukan Jepang, ia menjadi anggota &amp;#039;&amp;#039;Chuo Sangi-in&amp;#039;&amp;#039; (Dewan pertimbangan pusat) sebagai wakil dari golongan Islam. Anggota lain berasal dari golongan nasionalis sekuler seperti Buntaran Martoatmodjo, Ki Hadjar Dewantara, Moh. Hatta, Rasjid, Samsi, R. M. Sartono, Singgih, Soekardjo, Soewandi, Supomo, dan Woerjaningrat (Ichwan, 2011: 5).&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Pada masa pendudukan Jepang di tahun 1942, dibentuk Gerakan 3A yang memiliki semboyan &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Cahaya Asia, &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Pelindung Asia, dan &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Pemimpin Asia. Gerakan tersebut bertujuan menanamkan semangat membela Jepang. Jepang menunjuk Mr. Syamsudin sebagai pemimpin Gerakan 3A. Pada bulan Juli 1942 dibentuk suatu sub seksi Islam dengan Persiapan Persatuan Umat Islam dalam Gerakan 3A. Sebagai ketuanya ialah Abikoesno Tjokrosoejoso. Akan tetapi, ternyata Gerakan 3A tidak mendapat sambutan rakyat dan akhirnya dibubarkan. Sebagai gantinya, dibentuklah organisasi Putera (Pusat Tenaga Rakyat). Abikoesno juga masuk sebagai anggota Putera. Selain itu, pada masa pendudukan Jepang, ia menjadi anggota &amp;#039;&amp;#039;Chuo Sangi-in&amp;#039;&amp;#039; (Dewan pertimbangan pusat) sebagai wakil dari golongan Islam. Anggota lain berasal dari golongan nasionalis sekuler seperti Buntaran Martoatmodjo, Ki Hadjar Dewantara, Moh. Hatta, Rasjid, Samsi, R. M. Sartono, Singgih, Soekardjo, Soewandi, Supomo, dan Woerjaningrat (Ichwan, 2011: 5).&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br/&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br/&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot; data-marker=&quot;−&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #ffe49c; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Oleh karena posisi Jepang mulai terjepit dalam perang, Jepang menjanjikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia dengan membentuk Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang resmi dibentuk pada tanggal 29 April 1945. Anggota yang merepresentasikan kelompok Islam adalah Abikoesno Tjokrosoejoso, Ki Bagus Hadikusumo, KH Abdul Wahid Hasyim, Kahar Muzakkir, H. Agus Salim, and KH Ahmad Sanusi. Sedangkan kelompok nasionalis direpresentasikan oleh Sukarno, Mohammad Hatta, Soepomo, dan Muhammad Yamin. Upaya untuk mencapai resolusi mempersiapkan dasar negara tidak bisa diselesaikan oleh BPUPKI sehingga dibentuk Komite Panitia Sembilan yang berdiri pada 10 Juli 1945. Komite tersebut terdiri dari Sukarno, Mohammad Hatta, Achmad Subardjo, Muhammad Yamin, A.A. Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Kahar Muzakkir, Agus Salim dan Wahid Hasjim. Setelah melewati perdebatan yang sangat alot, akhirnya pada 22 Juni 1945 Panitia Sembilan berhasil merumuskan rancangan undang-undang dasar yang kelak disebut sebagai Piagam Jakarta. BPUPKI memfinalisasikannya melalui beberapa perubahan, termasuk mengganti sila pertama dasar negara (Pancasila) dari “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” menjadi “Ketuhanan yang maha esa”. Pada saat rapat memasuki sesi pembahasan sumpah presiden, Abikusno memberikan usul pertama, dan diterima melalui beberapa perubahan. Fakta ini membuat Abikusno juga memperoleh gelar “penggagas sumpah presiden” (Kharisma, 2021).[[File:Anggota Panitia Sembilan.jpg|center|Anggota Panitia Sembilan. (Sumber: Dok. Museum Perumusan Naskah Proklamasi)|link=|thumb|&lt;del style=&quot;font-weight: bold; text-decoration: none;&quot;&gt;495x495px&lt;/del&gt;]]&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot; data-marker=&quot;+&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #a3d3ff; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Oleh karena posisi Jepang mulai terjepit dalam perang, Jepang menjanjikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia dengan membentuk Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang resmi dibentuk pada tanggal 29 April 1945. Anggota yang merepresentasikan kelompok Islam adalah Abikoesno Tjokrosoejoso, Ki Bagus Hadikusumo, KH Abdul Wahid Hasyim, Kahar Muzakkir, H. Agus Salim, and KH Ahmad Sanusi. Sedangkan kelompok nasionalis direpresentasikan oleh Sukarno, Mohammad Hatta, Soepomo, dan Muhammad Yamin. Upaya untuk mencapai resolusi mempersiapkan dasar negara tidak bisa diselesaikan oleh BPUPKI sehingga dibentuk Komite Panitia Sembilan yang berdiri pada 10 Juli 1945. Komite tersebut terdiri dari Sukarno, Mohammad Hatta, Achmad Subardjo, Muhammad Yamin, A.A. Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Kahar Muzakkir, Agus Salim dan Wahid Hasjim. Setelah melewati perdebatan yang sangat alot, akhirnya pada 22 Juni 1945 Panitia Sembilan berhasil merumuskan rancangan undang-undang dasar yang kelak disebut sebagai Piagam Jakarta. BPUPKI memfinalisasikannya melalui beberapa perubahan, termasuk mengganti sila pertama dasar negara (Pancasila) dari “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” menjadi “Ketuhanan yang maha esa”. Pada saat rapat memasuki sesi pembahasan sumpah presiden, Abikusno memberikan usul pertama, dan diterima melalui beberapa perubahan. Fakta ini membuat Abikusno juga memperoleh gelar “penggagas sumpah presiden” (Kharisma, 2021).[[File:Anggota Panitia Sembilan.jpg|center|Anggota Panitia Sembilan. (Sumber: Dok. Museum Perumusan Naskah Proklamasi)|link=|thumb|&lt;ins style=&quot;font-weight: bold; text-decoration: none;&quot;&gt;499x499px&lt;/ins&gt;]]&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br/&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br/&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Pada kabinet pertama Presiden Sukarno, Abikoesno tercatat menduduki kursi Menteri Perhubungan tanggal 19 Agustus 1945. Nama Abikoesno Tjokrosoejoso sempat dikaitkan dengan peristiwa 3 Juli 1946 yang disebut-sebut sebagai usaha kudeta pertama di Indonesia. Ketika itu kelompok Persatuan Perjuangan dibawah pimpinan Tan Malaka melakukan percobaan kudeta untuk menurunkan Kabinet Sjahrir. Namun organisasi tersebut berhasil dibubarkan dan tokoh-tokoh utamanya ditangkap—termasuk Abikoesno. Penahanan Abikoesno sempat berpindah-pindah, antara lain dari Tawangmangu, Ponorogo, lalu ke Madiun. Ia ditahan bersama Moh. Yamin, Buntaran Martoatmodjo, Achmad Subardjo, Iwa Kusuma Sumantri dan Tan Malaka. Para tahanan ini diberi grasi dan dibebaskan pada 17 Agustus 1948.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Pada kabinet pertama Presiden Sukarno, Abikoesno tercatat menduduki kursi Menteri Perhubungan tanggal 19 Agustus 1945. Nama Abikoesno Tjokrosoejoso sempat dikaitkan dengan peristiwa 3 Juli 1946 yang disebut-sebut sebagai usaha kudeta pertama di Indonesia. Ketika itu kelompok Persatuan Perjuangan dibawah pimpinan Tan Malaka melakukan percobaan kudeta untuk menurunkan Kabinet Sjahrir. Namun organisasi tersebut berhasil dibubarkan dan tokoh-tokoh utamanya ditangkap—termasuk Abikoesno. Penahanan Abikoesno sempat berpindah-pindah, antara lain dari Tawangmangu, Ponorogo, lalu ke Madiun. Ia ditahan bersama Moh. Yamin, Buntaran Martoatmodjo, Achmad Subardjo, Iwa Kusuma Sumantri dan Tan Malaka. Para tahanan ini diberi grasi dan dibebaskan pada 17 Agustus 1948.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/table&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://esi.kemenbud.go.id/index.php?title=Abikoesno_Tjokrosoejoso&amp;diff=5993&amp;oldid=prev</id>
		<title>Admin at 09:06, 12 August 2024</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://esi.kemenbud.go.id/index.php?title=Abikoesno_Tjokrosoejoso&amp;diff=5993&amp;oldid=prev"/>
		<updated>2024-08-12T09:06:11Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;&lt;/p&gt;
&lt;table style=&quot;background-color: #fff; color: #202122;&quot; data-mw=&quot;interface&quot;&gt;
				&lt;col class=&quot;diff-marker&quot; /&gt;
				&lt;col class=&quot;diff-content&quot; /&gt;
				&lt;col class=&quot;diff-marker&quot; /&gt;
				&lt;col class=&quot;diff-content&quot; /&gt;
				&lt;tr class=&quot;diff-title&quot; lang=&quot;en&quot;&gt;
				&lt;td colspan=&quot;2&quot; style=&quot;background-color: #fff; color: #202122; text-align: center;&quot;&gt;← Older revision&lt;/td&gt;
				&lt;td colspan=&quot;2&quot; style=&quot;background-color: #fff; color: #202122; text-align: center;&quot;&gt;Revision as of 16:06, 12 August 2024&lt;/td&gt;
				&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td colspan=&quot;2&quot; class=&quot;diff-lineno&quot; id=&quot;mw-diff-left-l12&quot;&gt;Line 12:&lt;/td&gt;
&lt;td colspan=&quot;2&quot; class=&quot;diff-lineno&quot;&gt;Line 12:&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Pada masa pendudukan Jepang di tahun 1942, dibentuk Gerakan 3A yang memiliki semboyan &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Cahaya Asia, &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Pelindung Asia, dan &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Pemimpin Asia. Gerakan tersebut bertujuan menanamkan semangat membela Jepang. Jepang menunjuk Mr. Syamsudin sebagai pemimpin Gerakan 3A. Pada bulan Juli 1942 dibentuk suatu sub seksi Islam dengan Persiapan Persatuan Umat Islam dalam Gerakan 3A. Sebagai ketuanya ialah Abikoesno Tjokrosoejoso. Akan tetapi, ternyata Gerakan 3A tidak mendapat sambutan rakyat dan akhirnya dibubarkan. Sebagai gantinya, dibentuklah organisasi Putera (Pusat Tenaga Rakyat). Abikoesno juga masuk sebagai anggota Putera. Selain itu, pada masa pendudukan Jepang, ia menjadi anggota &amp;#039;&amp;#039;Chuo Sangi-in&amp;#039;&amp;#039; (Dewan pertimbangan pusat) sebagai wakil dari golongan Islam. Anggota lain berasal dari golongan nasionalis sekuler seperti Buntaran Martoatmodjo, Ki Hadjar Dewantara, Moh. Hatta, Rasjid, Samsi, R. M. Sartono, Singgih, Soekardjo, Soewandi, Supomo, dan Woerjaningrat (Ichwan, 2011: 5).&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Pada masa pendudukan Jepang di tahun 1942, dibentuk Gerakan 3A yang memiliki semboyan &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Cahaya Asia, &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Pelindung Asia, dan &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Pemimpin Asia. Gerakan tersebut bertujuan menanamkan semangat membela Jepang. Jepang menunjuk Mr. Syamsudin sebagai pemimpin Gerakan 3A. Pada bulan Juli 1942 dibentuk suatu sub seksi Islam dengan Persiapan Persatuan Umat Islam dalam Gerakan 3A. Sebagai ketuanya ialah Abikoesno Tjokrosoejoso. Akan tetapi, ternyata Gerakan 3A tidak mendapat sambutan rakyat dan akhirnya dibubarkan. Sebagai gantinya, dibentuklah organisasi Putera (Pusat Tenaga Rakyat). Abikoesno juga masuk sebagai anggota Putera. Selain itu, pada masa pendudukan Jepang, ia menjadi anggota &amp;#039;&amp;#039;Chuo Sangi-in&amp;#039;&amp;#039; (Dewan pertimbangan pusat) sebagai wakil dari golongan Islam. Anggota lain berasal dari golongan nasionalis sekuler seperti Buntaran Martoatmodjo, Ki Hadjar Dewantara, Moh. Hatta, Rasjid, Samsi, R. M. Sartono, Singgih, Soekardjo, Soewandi, Supomo, dan Woerjaningrat (Ichwan, 2011: 5).&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br/&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br/&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot; data-marker=&quot;−&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #ffe49c; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Oleh karena posisi Jepang mulai terjepit dalam perang, Jepang menjanjikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia dengan membentuk Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang resmi dibentuk pada tanggal 29 April 1945. Anggota yang merepresentasikan kelompok Islam adalah Abikoesno Tjokrosoejoso, Ki Bagus Hadikusumo, KH Abdul Wahid Hasyim, Kahar Muzakkir, H. Agus Salim, and KH Ahmad Sanusi. Sedangkan kelompok nasionalis direpresentasikan oleh Sukarno, Mohammad Hatta, Soepomo, dan Muhammad Yamin. Upaya untuk mencapai resolusi mempersiapkan dasar negara tidak bisa diselesaikan oleh BPUPKI sehingga dibentuk Komite Panitia Sembilan yang berdiri pada 10 Juli 1945. Komite tersebut terdiri dari Sukarno, Mohammad Hatta, Achmad Subardjo, Muhammad Yamin, A.A. Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Kahar Muzakkir, Agus Salim dan Wahid Hasjim. Setelah melewati perdebatan yang sangat alot, akhirnya pada 22 Juni 1945 Panitia Sembilan berhasil merumuskan rancangan undang-undang dasar yang kelak disebut sebagai Piagam Jakarta. BPUPKI memfinalisasikannya melalui beberapa perubahan, termasuk mengganti sila pertama dasar negara (Pancasila) dari “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” menjadi “Ketuhanan yang maha esa”. Pada saat rapat memasuki sesi pembahasan sumpah presiden, Abikusno memberikan usul pertama, dan diterima melalui beberapa perubahan. Fakta ini membuat Abikusno juga memperoleh gelar “penggagas sumpah presiden” (Kharisma, 2021).[[File:Anggota Panitia Sembilan.jpg|center|Anggota Panitia Sembilan. (Sumber: Dok. Museum Perumusan Naskah Proklamasi)|link=|thumb|&lt;del style=&quot;font-weight: bold; text-decoration: none;&quot;&gt;490x490px&lt;/del&gt;]]&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot; data-marker=&quot;+&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #a3d3ff; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Oleh karena posisi Jepang mulai terjepit dalam perang, Jepang menjanjikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia dengan membentuk Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang resmi dibentuk pada tanggal 29 April 1945. Anggota yang merepresentasikan kelompok Islam adalah Abikoesno Tjokrosoejoso, Ki Bagus Hadikusumo, KH Abdul Wahid Hasyim, Kahar Muzakkir, H. Agus Salim, and KH Ahmad Sanusi. Sedangkan kelompok nasionalis direpresentasikan oleh Sukarno, Mohammad Hatta, Soepomo, dan Muhammad Yamin. Upaya untuk mencapai resolusi mempersiapkan dasar negara tidak bisa diselesaikan oleh BPUPKI sehingga dibentuk Komite Panitia Sembilan yang berdiri pada 10 Juli 1945. Komite tersebut terdiri dari Sukarno, Mohammad Hatta, Achmad Subardjo, Muhammad Yamin, A.A. Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Kahar Muzakkir, Agus Salim dan Wahid Hasjim. Setelah melewati perdebatan yang sangat alot, akhirnya pada 22 Juni 1945 Panitia Sembilan berhasil merumuskan rancangan undang-undang dasar yang kelak disebut sebagai Piagam Jakarta. BPUPKI memfinalisasikannya melalui beberapa perubahan, termasuk mengganti sila pertama dasar negara (Pancasila) dari “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” menjadi “Ketuhanan yang maha esa”. Pada saat rapat memasuki sesi pembahasan sumpah presiden, Abikusno memberikan usul pertama, dan diterima melalui beberapa perubahan. Fakta ini membuat Abikusno juga memperoleh gelar “penggagas sumpah presiden” (Kharisma, 2021).[[File:Anggota Panitia Sembilan.jpg|center|Anggota Panitia Sembilan. (Sumber: Dok. Museum Perumusan Naskah Proklamasi)|link=|thumb|&lt;ins style=&quot;font-weight: bold; text-decoration: none;&quot;&gt;495x495px&lt;/ins&gt;]]&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br/&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br/&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Pada kabinet pertama Presiden Sukarno, Abikoesno tercatat menduduki kursi Menteri Perhubungan tanggal 19 Agustus 1945. Nama Abikoesno Tjokrosoejoso sempat dikaitkan dengan peristiwa 3 Juli 1946 yang disebut-sebut sebagai usaha kudeta pertama di Indonesia. Ketika itu kelompok Persatuan Perjuangan dibawah pimpinan Tan Malaka melakukan percobaan kudeta untuk menurunkan Kabinet Sjahrir. Namun organisasi tersebut berhasil dibubarkan dan tokoh-tokoh utamanya ditangkap—termasuk Abikoesno. Penahanan Abikoesno sempat berpindah-pindah, antara lain dari Tawangmangu, Ponorogo, lalu ke Madiun. Ia ditahan bersama Moh. Yamin, Buntaran Martoatmodjo, Achmad Subardjo, Iwa Kusuma Sumantri dan Tan Malaka. Para tahanan ini diberi grasi dan dibebaskan pada 17 Agustus 1948.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Pada kabinet pertama Presiden Sukarno, Abikoesno tercatat menduduki kursi Menteri Perhubungan tanggal 19 Agustus 1945. Nama Abikoesno Tjokrosoejoso sempat dikaitkan dengan peristiwa 3 Juli 1946 yang disebut-sebut sebagai usaha kudeta pertama di Indonesia. Ketika itu kelompok Persatuan Perjuangan dibawah pimpinan Tan Malaka melakukan percobaan kudeta untuk menurunkan Kabinet Sjahrir. Namun organisasi tersebut berhasil dibubarkan dan tokoh-tokoh utamanya ditangkap—termasuk Abikoesno. Penahanan Abikoesno sempat berpindah-pindah, antara lain dari Tawangmangu, Ponorogo, lalu ke Madiun. Ia ditahan bersama Moh. Yamin, Buntaran Martoatmodjo, Achmad Subardjo, Iwa Kusuma Sumantri dan Tan Malaka. Para tahanan ini diberi grasi dan dibebaskan pada 17 Agustus 1948.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/table&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://esi.kemenbud.go.id/index.php?title=Abikoesno_Tjokrosoejoso&amp;diff=5992&amp;oldid=prev</id>
		<title>Admin at 09:05, 12 August 2024</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://esi.kemenbud.go.id/index.php?title=Abikoesno_Tjokrosoejoso&amp;diff=5992&amp;oldid=prev"/>
		<updated>2024-08-12T09:05:40Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;&lt;/p&gt;
&lt;table style=&quot;background-color: #fff; color: #202122;&quot; data-mw=&quot;interface&quot;&gt;
				&lt;col class=&quot;diff-marker&quot; /&gt;
				&lt;col class=&quot;diff-content&quot; /&gt;
				&lt;col class=&quot;diff-marker&quot; /&gt;
				&lt;col class=&quot;diff-content&quot; /&gt;
				&lt;tr class=&quot;diff-title&quot; lang=&quot;en&quot;&gt;
				&lt;td colspan=&quot;2&quot; style=&quot;background-color: #fff; color: #202122; text-align: center;&quot;&gt;← Older revision&lt;/td&gt;
				&lt;td colspan=&quot;2&quot; style=&quot;background-color: #fff; color: #202122; text-align: center;&quot;&gt;Revision as of 16:05, 12 August 2024&lt;/td&gt;
				&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td colspan=&quot;2&quot; class=&quot;diff-lineno&quot; id=&quot;mw-diff-left-l12&quot;&gt;Line 12:&lt;/td&gt;
&lt;td colspan=&quot;2&quot; class=&quot;diff-lineno&quot;&gt;Line 12:&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Pada masa pendudukan Jepang di tahun 1942, dibentuk Gerakan 3A yang memiliki semboyan &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Cahaya Asia, &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Pelindung Asia, dan &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Pemimpin Asia. Gerakan tersebut bertujuan menanamkan semangat membela Jepang. Jepang menunjuk Mr. Syamsudin sebagai pemimpin Gerakan 3A. Pada bulan Juli 1942 dibentuk suatu sub seksi Islam dengan Persiapan Persatuan Umat Islam dalam Gerakan 3A. Sebagai ketuanya ialah Abikoesno Tjokrosoejoso. Akan tetapi, ternyata Gerakan 3A tidak mendapat sambutan rakyat dan akhirnya dibubarkan. Sebagai gantinya, dibentuklah organisasi Putera (Pusat Tenaga Rakyat). Abikoesno juga masuk sebagai anggota Putera. Selain itu, pada masa pendudukan Jepang, ia menjadi anggota &amp;#039;&amp;#039;Chuo Sangi-in&amp;#039;&amp;#039; (Dewan pertimbangan pusat) sebagai wakil dari golongan Islam. Anggota lain berasal dari golongan nasionalis sekuler seperti Buntaran Martoatmodjo, Ki Hadjar Dewantara, Moh. Hatta, Rasjid, Samsi, R. M. Sartono, Singgih, Soekardjo, Soewandi, Supomo, dan Woerjaningrat (Ichwan, 2011: 5).&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Pada masa pendudukan Jepang di tahun 1942, dibentuk Gerakan 3A yang memiliki semboyan &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Cahaya Asia, &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Pelindung Asia, dan &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Pemimpin Asia. Gerakan tersebut bertujuan menanamkan semangat membela Jepang. Jepang menunjuk Mr. Syamsudin sebagai pemimpin Gerakan 3A. Pada bulan Juli 1942 dibentuk suatu sub seksi Islam dengan Persiapan Persatuan Umat Islam dalam Gerakan 3A. Sebagai ketuanya ialah Abikoesno Tjokrosoejoso. Akan tetapi, ternyata Gerakan 3A tidak mendapat sambutan rakyat dan akhirnya dibubarkan. Sebagai gantinya, dibentuklah organisasi Putera (Pusat Tenaga Rakyat). Abikoesno juga masuk sebagai anggota Putera. Selain itu, pada masa pendudukan Jepang, ia menjadi anggota &amp;#039;&amp;#039;Chuo Sangi-in&amp;#039;&amp;#039; (Dewan pertimbangan pusat) sebagai wakil dari golongan Islam. Anggota lain berasal dari golongan nasionalis sekuler seperti Buntaran Martoatmodjo, Ki Hadjar Dewantara, Moh. Hatta, Rasjid, Samsi, R. M. Sartono, Singgih, Soekardjo, Soewandi, Supomo, dan Woerjaningrat (Ichwan, 2011: 5).&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br/&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br/&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot; data-marker=&quot;−&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #ffe49c; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Oleh karena posisi Jepang mulai terjepit dalam perang, Jepang menjanjikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia dengan membentuk Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang resmi dibentuk pada tanggal 29 April 1945. Anggota yang merepresentasikan kelompok Islam adalah Abikoesno Tjokrosoejoso, Ki Bagus Hadikusumo, KH Abdul Wahid Hasyim, Kahar Muzakkir, H. Agus Salim, and KH Ahmad Sanusi. Sedangkan kelompok nasionalis direpresentasikan oleh Sukarno, Mohammad Hatta, Soepomo, dan Muhammad Yamin. Upaya untuk mencapai resolusi mempersiapkan dasar negara tidak bisa diselesaikan oleh BPUPKI sehingga dibentuk Komite Panitia Sembilan yang berdiri pada 10 Juli 1945. Komite tersebut terdiri dari Sukarno, Mohammad Hatta, Achmad Subardjo, Muhammad Yamin, A.A. Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Kahar Muzakkir, Agus Salim dan Wahid Hasjim. Setelah melewati perdebatan yang sangat alot, akhirnya pada 22 Juni 1945 Panitia Sembilan berhasil merumuskan rancangan undang-undang dasar yang kelak disebut sebagai Piagam Jakarta. BPUPKI memfinalisasikannya melalui beberapa perubahan, termasuk mengganti sila pertama dasar negara (Pancasila) dari “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” menjadi “Ketuhanan yang maha esa”. Pada saat rapat memasuki sesi pembahasan sumpah presiden, Abikusno memberikan usul pertama, dan diterima melalui beberapa perubahan. Fakta ini membuat Abikusno juga memperoleh gelar “penggagas sumpah presiden” (Kharisma, 2021).[[File:Anggota Panitia Sembilan.jpg|center|Anggota Panitia Sembilan. (Sumber: Dok. Museum Perumusan Naskah Proklamasi)|link=|thumb|&lt;del style=&quot;font-weight: bold; text-decoration: none;&quot;&gt;480x480px&lt;/del&gt;]]&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot; data-marker=&quot;+&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #a3d3ff; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Oleh karena posisi Jepang mulai terjepit dalam perang, Jepang menjanjikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia dengan membentuk Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang resmi dibentuk pada tanggal 29 April 1945. Anggota yang merepresentasikan kelompok Islam adalah Abikoesno Tjokrosoejoso, Ki Bagus Hadikusumo, KH Abdul Wahid Hasyim, Kahar Muzakkir, H. Agus Salim, and KH Ahmad Sanusi. Sedangkan kelompok nasionalis direpresentasikan oleh Sukarno, Mohammad Hatta, Soepomo, dan Muhammad Yamin. Upaya untuk mencapai resolusi mempersiapkan dasar negara tidak bisa diselesaikan oleh BPUPKI sehingga dibentuk Komite Panitia Sembilan yang berdiri pada 10 Juli 1945. Komite tersebut terdiri dari Sukarno, Mohammad Hatta, Achmad Subardjo, Muhammad Yamin, A.A. Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Kahar Muzakkir, Agus Salim dan Wahid Hasjim. Setelah melewati perdebatan yang sangat alot, akhirnya pada 22 Juni 1945 Panitia Sembilan berhasil merumuskan rancangan undang-undang dasar yang kelak disebut sebagai Piagam Jakarta. BPUPKI memfinalisasikannya melalui beberapa perubahan, termasuk mengganti sila pertama dasar negara (Pancasila) dari “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” menjadi “Ketuhanan yang maha esa”. Pada saat rapat memasuki sesi pembahasan sumpah presiden, Abikusno memberikan usul pertama, dan diterima melalui beberapa perubahan. Fakta ini membuat Abikusno juga memperoleh gelar “penggagas sumpah presiden” (Kharisma, 2021).[[File:Anggota Panitia Sembilan.jpg|center|Anggota Panitia Sembilan. (Sumber: Dok. Museum Perumusan Naskah Proklamasi)|link=|thumb|&lt;ins style=&quot;font-weight: bold; text-decoration: none;&quot;&gt;490x490px&lt;/ins&gt;]]&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br/&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br/&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Pada kabinet pertama Presiden Sukarno, Abikoesno tercatat menduduki kursi Menteri Perhubungan tanggal 19 Agustus 1945. Nama Abikoesno Tjokrosoejoso sempat dikaitkan dengan peristiwa 3 Juli 1946 yang disebut-sebut sebagai usaha kudeta pertama di Indonesia. Ketika itu kelompok Persatuan Perjuangan dibawah pimpinan Tan Malaka melakukan percobaan kudeta untuk menurunkan Kabinet Sjahrir. Namun organisasi tersebut berhasil dibubarkan dan tokoh-tokoh utamanya ditangkap—termasuk Abikoesno. Penahanan Abikoesno sempat berpindah-pindah, antara lain dari Tawangmangu, Ponorogo, lalu ke Madiun. Ia ditahan bersama Moh. Yamin, Buntaran Martoatmodjo, Achmad Subardjo, Iwa Kusuma Sumantri dan Tan Malaka. Para tahanan ini diberi grasi dan dibebaskan pada 17 Agustus 1948.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Pada kabinet pertama Presiden Sukarno, Abikoesno tercatat menduduki kursi Menteri Perhubungan tanggal 19 Agustus 1945. Nama Abikoesno Tjokrosoejoso sempat dikaitkan dengan peristiwa 3 Juli 1946 yang disebut-sebut sebagai usaha kudeta pertama di Indonesia. Ketika itu kelompok Persatuan Perjuangan dibawah pimpinan Tan Malaka melakukan percobaan kudeta untuk menurunkan Kabinet Sjahrir. Namun organisasi tersebut berhasil dibubarkan dan tokoh-tokoh utamanya ditangkap—termasuk Abikoesno. Penahanan Abikoesno sempat berpindah-pindah, antara lain dari Tawangmangu, Ponorogo, lalu ke Madiun. Ia ditahan bersama Moh. Yamin, Buntaran Martoatmodjo, Achmad Subardjo, Iwa Kusuma Sumantri dan Tan Malaka. Para tahanan ini diberi grasi dan dibebaskan pada 17 Agustus 1948.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/table&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://esi.kemenbud.go.id/index.php?title=Abikoesno_Tjokrosoejoso&amp;diff=5991&amp;oldid=prev</id>
		<title>Admin at 09:05, 12 August 2024</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://esi.kemenbud.go.id/index.php?title=Abikoesno_Tjokrosoejoso&amp;diff=5991&amp;oldid=prev"/>
		<updated>2024-08-12T09:05:12Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;&lt;/p&gt;
&lt;table style=&quot;background-color: #fff; color: #202122;&quot; data-mw=&quot;interface&quot;&gt;
				&lt;col class=&quot;diff-marker&quot; /&gt;
				&lt;col class=&quot;diff-content&quot; /&gt;
				&lt;col class=&quot;diff-marker&quot; /&gt;
				&lt;col class=&quot;diff-content&quot; /&gt;
				&lt;tr class=&quot;diff-title&quot; lang=&quot;en&quot;&gt;
				&lt;td colspan=&quot;2&quot; style=&quot;background-color: #fff; color: #202122; text-align: center;&quot;&gt;← Older revision&lt;/td&gt;
				&lt;td colspan=&quot;2&quot; style=&quot;background-color: #fff; color: #202122; text-align: center;&quot;&gt;Revision as of 16:05, 12 August 2024&lt;/td&gt;
				&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td colspan=&quot;2&quot; class=&quot;diff-lineno&quot; id=&quot;mw-diff-left-l12&quot;&gt;Line 12:&lt;/td&gt;
&lt;td colspan=&quot;2&quot; class=&quot;diff-lineno&quot;&gt;Line 12:&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Pada masa pendudukan Jepang di tahun 1942, dibentuk Gerakan 3A yang memiliki semboyan &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Cahaya Asia, &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Pelindung Asia, dan &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Pemimpin Asia. Gerakan tersebut bertujuan menanamkan semangat membela Jepang. Jepang menunjuk Mr. Syamsudin sebagai pemimpin Gerakan 3A. Pada bulan Juli 1942 dibentuk suatu sub seksi Islam dengan Persiapan Persatuan Umat Islam dalam Gerakan 3A. Sebagai ketuanya ialah Abikoesno Tjokrosoejoso. Akan tetapi, ternyata Gerakan 3A tidak mendapat sambutan rakyat dan akhirnya dibubarkan. Sebagai gantinya, dibentuklah organisasi Putera (Pusat Tenaga Rakyat). Abikoesno juga masuk sebagai anggota Putera. Selain itu, pada masa pendudukan Jepang, ia menjadi anggota &amp;#039;&amp;#039;Chuo Sangi-in&amp;#039;&amp;#039; (Dewan pertimbangan pusat) sebagai wakil dari golongan Islam. Anggota lain berasal dari golongan nasionalis sekuler seperti Buntaran Martoatmodjo, Ki Hadjar Dewantara, Moh. Hatta, Rasjid, Samsi, R. M. Sartono, Singgih, Soekardjo, Soewandi, Supomo, dan Woerjaningrat (Ichwan, 2011: 5).&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Pada masa pendudukan Jepang di tahun 1942, dibentuk Gerakan 3A yang memiliki semboyan &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Cahaya Asia, &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Pelindung Asia, dan &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Pemimpin Asia. Gerakan tersebut bertujuan menanamkan semangat membela Jepang. Jepang menunjuk Mr. Syamsudin sebagai pemimpin Gerakan 3A. Pada bulan Juli 1942 dibentuk suatu sub seksi Islam dengan Persiapan Persatuan Umat Islam dalam Gerakan 3A. Sebagai ketuanya ialah Abikoesno Tjokrosoejoso. Akan tetapi, ternyata Gerakan 3A tidak mendapat sambutan rakyat dan akhirnya dibubarkan. Sebagai gantinya, dibentuklah organisasi Putera (Pusat Tenaga Rakyat). Abikoesno juga masuk sebagai anggota Putera. Selain itu, pada masa pendudukan Jepang, ia menjadi anggota &amp;#039;&amp;#039;Chuo Sangi-in&amp;#039;&amp;#039; (Dewan pertimbangan pusat) sebagai wakil dari golongan Islam. Anggota lain berasal dari golongan nasionalis sekuler seperti Buntaran Martoatmodjo, Ki Hadjar Dewantara, Moh. Hatta, Rasjid, Samsi, R. M. Sartono, Singgih, Soekardjo, Soewandi, Supomo, dan Woerjaningrat (Ichwan, 2011: 5).&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br/&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br/&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot; data-marker=&quot;−&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #ffe49c; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Oleh karena posisi Jepang mulai terjepit dalam perang, Jepang menjanjikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia dengan membentuk Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang resmi dibentuk pada tanggal 29 April 1945. Anggota yang merepresentasikan kelompok Islam adalah Abikoesno Tjokrosoejoso, Ki Bagus Hadikusumo, KH Abdul Wahid Hasyim, Kahar Muzakkir, H. Agus Salim, and KH Ahmad Sanusi. Sedangkan kelompok nasionalis direpresentasikan oleh Sukarno, Mohammad Hatta, Soepomo, dan Muhammad Yamin. Upaya untuk mencapai resolusi mempersiapkan dasar negara tidak bisa diselesaikan oleh BPUPKI sehingga dibentuk Komite Panitia Sembilan yang berdiri pada 10 Juli 1945. Komite tersebut terdiri dari Sukarno, Mohammad Hatta, Achmad Subardjo, Muhammad Yamin, A.A. Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Kahar Muzakkir, Agus Salim dan Wahid Hasjim. Setelah melewati perdebatan yang sangat alot, akhirnya pada 22 Juni 1945 Panitia Sembilan berhasil merumuskan rancangan undang-undang dasar yang kelak disebut sebagai Piagam Jakarta. BPUPKI memfinalisasikannya melalui beberapa perubahan, termasuk mengganti sila pertama dasar negara (Pancasila) dari “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” menjadi “Ketuhanan yang maha esa”. Pada saat rapat memasuki sesi pembahasan sumpah presiden, Abikusno memberikan usul pertama, dan diterima melalui beberapa perubahan. Fakta ini membuat Abikusno juga memperoleh gelar “penggagas sumpah presiden” (Kharisma, 2021).[[File:Anggota Panitia Sembilan.jpg|center|Anggota Panitia Sembilan. (Sumber: Dok. Museum Perumusan Naskah Proklamasi)|link=|thumb|&lt;del style=&quot;font-weight: bold; text-decoration: none;&quot;&gt;470x470px&lt;/del&gt;]]&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot; data-marker=&quot;+&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #a3d3ff; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Oleh karena posisi Jepang mulai terjepit dalam perang, Jepang menjanjikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia dengan membentuk Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang resmi dibentuk pada tanggal 29 April 1945. Anggota yang merepresentasikan kelompok Islam adalah Abikoesno Tjokrosoejoso, Ki Bagus Hadikusumo, KH Abdul Wahid Hasyim, Kahar Muzakkir, H. Agus Salim, and KH Ahmad Sanusi. Sedangkan kelompok nasionalis direpresentasikan oleh Sukarno, Mohammad Hatta, Soepomo, dan Muhammad Yamin. Upaya untuk mencapai resolusi mempersiapkan dasar negara tidak bisa diselesaikan oleh BPUPKI sehingga dibentuk Komite Panitia Sembilan yang berdiri pada 10 Juli 1945. Komite tersebut terdiri dari Sukarno, Mohammad Hatta, Achmad Subardjo, Muhammad Yamin, A.A. Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Kahar Muzakkir, Agus Salim dan Wahid Hasjim. Setelah melewati perdebatan yang sangat alot, akhirnya pada 22 Juni 1945 Panitia Sembilan berhasil merumuskan rancangan undang-undang dasar yang kelak disebut sebagai Piagam Jakarta. BPUPKI memfinalisasikannya melalui beberapa perubahan, termasuk mengganti sila pertama dasar negara (Pancasila) dari “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” menjadi “Ketuhanan yang maha esa”. Pada saat rapat memasuki sesi pembahasan sumpah presiden, Abikusno memberikan usul pertama, dan diterima melalui beberapa perubahan. Fakta ini membuat Abikusno juga memperoleh gelar “penggagas sumpah presiden” (Kharisma, 2021).[[File:Anggota Panitia Sembilan.jpg|center|Anggota Panitia Sembilan. (Sumber: Dok. Museum Perumusan Naskah Proklamasi)|link=|thumb|&lt;ins style=&quot;font-weight: bold; text-decoration: none;&quot;&gt;480x480px&lt;/ins&gt;]]&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br/&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br/&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Pada kabinet pertama Presiden Sukarno, Abikoesno tercatat menduduki kursi Menteri Perhubungan tanggal 19 Agustus 1945. Nama Abikoesno Tjokrosoejoso sempat dikaitkan dengan peristiwa 3 Juli 1946 yang disebut-sebut sebagai usaha kudeta pertama di Indonesia. Ketika itu kelompok Persatuan Perjuangan dibawah pimpinan Tan Malaka melakukan percobaan kudeta untuk menurunkan Kabinet Sjahrir. Namun organisasi tersebut berhasil dibubarkan dan tokoh-tokoh utamanya ditangkap—termasuk Abikoesno. Penahanan Abikoesno sempat berpindah-pindah, antara lain dari Tawangmangu, Ponorogo, lalu ke Madiun. Ia ditahan bersama Moh. Yamin, Buntaran Martoatmodjo, Achmad Subardjo, Iwa Kusuma Sumantri dan Tan Malaka. Para tahanan ini diberi grasi dan dibebaskan pada 17 Agustus 1948.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Pada kabinet pertama Presiden Sukarno, Abikoesno tercatat menduduki kursi Menteri Perhubungan tanggal 19 Agustus 1945. Nama Abikoesno Tjokrosoejoso sempat dikaitkan dengan peristiwa 3 Juli 1946 yang disebut-sebut sebagai usaha kudeta pertama di Indonesia. Ketika itu kelompok Persatuan Perjuangan dibawah pimpinan Tan Malaka melakukan percobaan kudeta untuk menurunkan Kabinet Sjahrir. Namun organisasi tersebut berhasil dibubarkan dan tokoh-tokoh utamanya ditangkap—termasuk Abikoesno. Penahanan Abikoesno sempat berpindah-pindah, antara lain dari Tawangmangu, Ponorogo, lalu ke Madiun. Ia ditahan bersama Moh. Yamin, Buntaran Martoatmodjo, Achmad Subardjo, Iwa Kusuma Sumantri dan Tan Malaka. Para tahanan ini diberi grasi dan dibebaskan pada 17 Agustus 1948.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/table&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://esi.kemenbud.go.id/index.php?title=Abikoesno_Tjokrosoejoso&amp;diff=5990&amp;oldid=prev</id>
		<title>Admin at 09:04, 12 August 2024</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://esi.kemenbud.go.id/index.php?title=Abikoesno_Tjokrosoejoso&amp;diff=5990&amp;oldid=prev"/>
		<updated>2024-08-12T09:04:40Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;&lt;/p&gt;
&lt;table style=&quot;background-color: #fff; color: #202122;&quot; data-mw=&quot;interface&quot;&gt;
				&lt;col class=&quot;diff-marker&quot; /&gt;
				&lt;col class=&quot;diff-content&quot; /&gt;
				&lt;col class=&quot;diff-marker&quot; /&gt;
				&lt;col class=&quot;diff-content&quot; /&gt;
				&lt;tr class=&quot;diff-title&quot; lang=&quot;en&quot;&gt;
				&lt;td colspan=&quot;2&quot; style=&quot;background-color: #fff; color: #202122; text-align: center;&quot;&gt;← Older revision&lt;/td&gt;
				&lt;td colspan=&quot;2&quot; style=&quot;background-color: #fff; color: #202122; text-align: center;&quot;&gt;Revision as of 16:04, 12 August 2024&lt;/td&gt;
				&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td colspan=&quot;2&quot; class=&quot;diff-lineno&quot; id=&quot;mw-diff-left-l12&quot;&gt;Line 12:&lt;/td&gt;
&lt;td colspan=&quot;2&quot; class=&quot;diff-lineno&quot;&gt;Line 12:&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Pada masa pendudukan Jepang di tahun 1942, dibentuk Gerakan 3A yang memiliki semboyan &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Cahaya Asia, &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Pelindung Asia, dan &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Pemimpin Asia. Gerakan tersebut bertujuan menanamkan semangat membela Jepang. Jepang menunjuk Mr. Syamsudin sebagai pemimpin Gerakan 3A. Pada bulan Juli 1942 dibentuk suatu sub seksi Islam dengan Persiapan Persatuan Umat Islam dalam Gerakan 3A. Sebagai ketuanya ialah Abikoesno Tjokrosoejoso. Akan tetapi, ternyata Gerakan 3A tidak mendapat sambutan rakyat dan akhirnya dibubarkan. Sebagai gantinya, dibentuklah organisasi Putera (Pusat Tenaga Rakyat). Abikoesno juga masuk sebagai anggota Putera. Selain itu, pada masa pendudukan Jepang, ia menjadi anggota &amp;#039;&amp;#039;Chuo Sangi-in&amp;#039;&amp;#039; (Dewan pertimbangan pusat) sebagai wakil dari golongan Islam. Anggota lain berasal dari golongan nasionalis sekuler seperti Buntaran Martoatmodjo, Ki Hadjar Dewantara, Moh. Hatta, Rasjid, Samsi, R. M. Sartono, Singgih, Soekardjo, Soewandi, Supomo, dan Woerjaningrat (Ichwan, 2011: 5).&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Pada masa pendudukan Jepang di tahun 1942, dibentuk Gerakan 3A yang memiliki semboyan &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Cahaya Asia, &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Pelindung Asia, dan &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Pemimpin Asia. Gerakan tersebut bertujuan menanamkan semangat membela Jepang. Jepang menunjuk Mr. Syamsudin sebagai pemimpin Gerakan 3A. Pada bulan Juli 1942 dibentuk suatu sub seksi Islam dengan Persiapan Persatuan Umat Islam dalam Gerakan 3A. Sebagai ketuanya ialah Abikoesno Tjokrosoejoso. Akan tetapi, ternyata Gerakan 3A tidak mendapat sambutan rakyat dan akhirnya dibubarkan. Sebagai gantinya, dibentuklah organisasi Putera (Pusat Tenaga Rakyat). Abikoesno juga masuk sebagai anggota Putera. Selain itu, pada masa pendudukan Jepang, ia menjadi anggota &amp;#039;&amp;#039;Chuo Sangi-in&amp;#039;&amp;#039; (Dewan pertimbangan pusat) sebagai wakil dari golongan Islam. Anggota lain berasal dari golongan nasionalis sekuler seperti Buntaran Martoatmodjo, Ki Hadjar Dewantara, Moh. Hatta, Rasjid, Samsi, R. M. Sartono, Singgih, Soekardjo, Soewandi, Supomo, dan Woerjaningrat (Ichwan, 2011: 5).&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br/&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br/&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot; data-marker=&quot;−&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #ffe49c; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Oleh karena posisi Jepang mulai terjepit dalam perang, Jepang menjanjikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia dengan membentuk Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang resmi dibentuk pada tanggal 29 April 1945. Anggota yang merepresentasikan kelompok Islam adalah Abikoesno Tjokrosoejoso, Ki Bagus Hadikusumo, KH Abdul Wahid Hasyim, Kahar Muzakkir, H. Agus Salim, and KH Ahmad Sanusi. Sedangkan kelompok nasionalis direpresentasikan oleh Sukarno, Mohammad Hatta, Soepomo, dan Muhammad Yamin. Upaya untuk mencapai resolusi mempersiapkan dasar negara tidak bisa diselesaikan oleh BPUPKI sehingga dibentuk Komite Panitia Sembilan yang berdiri pada 10 Juli 1945. Komite tersebut terdiri dari Sukarno, Mohammad Hatta, Achmad Subardjo, Muhammad Yamin, A.A. Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Kahar Muzakkir, Agus Salim dan Wahid Hasjim. Setelah melewati perdebatan yang sangat alot, akhirnya pada 22 Juni 1945 Panitia Sembilan berhasil merumuskan rancangan undang-undang dasar yang kelak disebut sebagai Piagam Jakarta. BPUPKI memfinalisasikannya melalui beberapa perubahan, termasuk mengganti sila pertama dasar negara (Pancasila) dari “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” menjadi “Ketuhanan yang maha esa”. Pada saat rapat memasuki sesi pembahasan sumpah presiden, Abikusno memberikan usul pertama, dan diterima melalui beberapa perubahan. Fakta ini membuat Abikusno juga memperoleh gelar “penggagas sumpah presiden” (Kharisma, 2021).[[File:Anggota Panitia Sembilan.jpg|center|Anggota Panitia Sembilan. (Sumber: Dok. Museum Perumusan Naskah Proklamasi)|link=|thumb|&lt;del style=&quot;font-weight: bold; text-decoration: none;&quot;&gt;450x450px&lt;/del&gt;]]&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot; data-marker=&quot;+&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #a3d3ff; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Oleh karena posisi Jepang mulai terjepit dalam perang, Jepang menjanjikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia dengan membentuk Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang resmi dibentuk pada tanggal 29 April 1945. Anggota yang merepresentasikan kelompok Islam adalah Abikoesno Tjokrosoejoso, Ki Bagus Hadikusumo, KH Abdul Wahid Hasyim, Kahar Muzakkir, H. Agus Salim, and KH Ahmad Sanusi. Sedangkan kelompok nasionalis direpresentasikan oleh Sukarno, Mohammad Hatta, Soepomo, dan Muhammad Yamin. Upaya untuk mencapai resolusi mempersiapkan dasar negara tidak bisa diselesaikan oleh BPUPKI sehingga dibentuk Komite Panitia Sembilan yang berdiri pada 10 Juli 1945. Komite tersebut terdiri dari Sukarno, Mohammad Hatta, Achmad Subardjo, Muhammad Yamin, A.A. Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Kahar Muzakkir, Agus Salim dan Wahid Hasjim. Setelah melewati perdebatan yang sangat alot, akhirnya pada 22 Juni 1945 Panitia Sembilan berhasil merumuskan rancangan undang-undang dasar yang kelak disebut sebagai Piagam Jakarta. BPUPKI memfinalisasikannya melalui beberapa perubahan, termasuk mengganti sila pertama dasar negara (Pancasila) dari “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” menjadi “Ketuhanan yang maha esa”. Pada saat rapat memasuki sesi pembahasan sumpah presiden, Abikusno memberikan usul pertama, dan diterima melalui beberapa perubahan. Fakta ini membuat Abikusno juga memperoleh gelar “penggagas sumpah presiden” (Kharisma, 2021).[[File:Anggota Panitia Sembilan.jpg|center|Anggota Panitia Sembilan. (Sumber: Dok. Museum Perumusan Naskah Proklamasi)|link=|thumb|&lt;ins style=&quot;font-weight: bold; text-decoration: none;&quot;&gt;470x470px&lt;/ins&gt;]]&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br/&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br/&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Pada kabinet pertama Presiden Sukarno, Abikoesno tercatat menduduki kursi Menteri Perhubungan tanggal 19 Agustus 1945. Nama Abikoesno Tjokrosoejoso sempat dikaitkan dengan peristiwa 3 Juli 1946 yang disebut-sebut sebagai usaha kudeta pertama di Indonesia. Ketika itu kelompok Persatuan Perjuangan dibawah pimpinan Tan Malaka melakukan percobaan kudeta untuk menurunkan Kabinet Sjahrir. Namun organisasi tersebut berhasil dibubarkan dan tokoh-tokoh utamanya ditangkap—termasuk Abikoesno. Penahanan Abikoesno sempat berpindah-pindah, antara lain dari Tawangmangu, Ponorogo, lalu ke Madiun. Ia ditahan bersama Moh. Yamin, Buntaran Martoatmodjo, Achmad Subardjo, Iwa Kusuma Sumantri dan Tan Malaka. Para tahanan ini diberi grasi dan dibebaskan pada 17 Agustus 1948.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Pada kabinet pertama Presiden Sukarno, Abikoesno tercatat menduduki kursi Menteri Perhubungan tanggal 19 Agustus 1945. Nama Abikoesno Tjokrosoejoso sempat dikaitkan dengan peristiwa 3 Juli 1946 yang disebut-sebut sebagai usaha kudeta pertama di Indonesia. Ketika itu kelompok Persatuan Perjuangan dibawah pimpinan Tan Malaka melakukan percobaan kudeta untuk menurunkan Kabinet Sjahrir. Namun organisasi tersebut berhasil dibubarkan dan tokoh-tokoh utamanya ditangkap—termasuk Abikoesno. Penahanan Abikoesno sempat berpindah-pindah, antara lain dari Tawangmangu, Ponorogo, lalu ke Madiun. Ia ditahan bersama Moh. Yamin, Buntaran Martoatmodjo, Achmad Subardjo, Iwa Kusuma Sumantri dan Tan Malaka. Para tahanan ini diberi grasi dan dibebaskan pada 17 Agustus 1948.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/table&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://esi.kemenbud.go.id/index.php?title=Abikoesno_Tjokrosoejoso&amp;diff=5989&amp;oldid=prev</id>
		<title>Admin at 09:04, 12 August 2024</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://esi.kemenbud.go.id/index.php?title=Abikoesno_Tjokrosoejoso&amp;diff=5989&amp;oldid=prev"/>
		<updated>2024-08-12T09:04:01Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;&lt;/p&gt;
&lt;table style=&quot;background-color: #fff; color: #202122;&quot; data-mw=&quot;interface&quot;&gt;
				&lt;col class=&quot;diff-marker&quot; /&gt;
				&lt;col class=&quot;diff-content&quot; /&gt;
				&lt;col class=&quot;diff-marker&quot; /&gt;
				&lt;col class=&quot;diff-content&quot; /&gt;
				&lt;tr class=&quot;diff-title&quot; lang=&quot;en&quot;&gt;
				&lt;td colspan=&quot;2&quot; style=&quot;background-color: #fff; color: #202122; text-align: center;&quot;&gt;← Older revision&lt;/td&gt;
				&lt;td colspan=&quot;2&quot; style=&quot;background-color: #fff; color: #202122; text-align: center;&quot;&gt;Revision as of 16:04, 12 August 2024&lt;/td&gt;
				&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td colspan=&quot;2&quot; class=&quot;diff-lineno&quot; id=&quot;mw-diff-left-l12&quot;&gt;Line 12:&lt;/td&gt;
&lt;td colspan=&quot;2&quot; class=&quot;diff-lineno&quot;&gt;Line 12:&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Pada masa pendudukan Jepang di tahun 1942, dibentuk Gerakan 3A yang memiliki semboyan &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Cahaya Asia, &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Pelindung Asia, dan &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Pemimpin Asia. Gerakan tersebut bertujuan menanamkan semangat membela Jepang. Jepang menunjuk Mr. Syamsudin sebagai pemimpin Gerakan 3A. Pada bulan Juli 1942 dibentuk suatu sub seksi Islam dengan Persiapan Persatuan Umat Islam dalam Gerakan 3A. Sebagai ketuanya ialah Abikoesno Tjokrosoejoso. Akan tetapi, ternyata Gerakan 3A tidak mendapat sambutan rakyat dan akhirnya dibubarkan. Sebagai gantinya, dibentuklah organisasi Putera (Pusat Tenaga Rakyat). Abikoesno juga masuk sebagai anggota Putera. Selain itu, pada masa pendudukan Jepang, ia menjadi anggota &amp;#039;&amp;#039;Chuo Sangi-in&amp;#039;&amp;#039; (Dewan pertimbangan pusat) sebagai wakil dari golongan Islam. Anggota lain berasal dari golongan nasionalis sekuler seperti Buntaran Martoatmodjo, Ki Hadjar Dewantara, Moh. Hatta, Rasjid, Samsi, R. M. Sartono, Singgih, Soekardjo, Soewandi, Supomo, dan Woerjaningrat (Ichwan, 2011: 5).&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Pada masa pendudukan Jepang di tahun 1942, dibentuk Gerakan 3A yang memiliki semboyan &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Cahaya Asia, &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Pelindung Asia, dan &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Pemimpin Asia. Gerakan tersebut bertujuan menanamkan semangat membela Jepang. Jepang menunjuk Mr. Syamsudin sebagai pemimpin Gerakan 3A. Pada bulan Juli 1942 dibentuk suatu sub seksi Islam dengan Persiapan Persatuan Umat Islam dalam Gerakan 3A. Sebagai ketuanya ialah Abikoesno Tjokrosoejoso. Akan tetapi, ternyata Gerakan 3A tidak mendapat sambutan rakyat dan akhirnya dibubarkan. Sebagai gantinya, dibentuklah organisasi Putera (Pusat Tenaga Rakyat). Abikoesno juga masuk sebagai anggota Putera. Selain itu, pada masa pendudukan Jepang, ia menjadi anggota &amp;#039;&amp;#039;Chuo Sangi-in&amp;#039;&amp;#039; (Dewan pertimbangan pusat) sebagai wakil dari golongan Islam. Anggota lain berasal dari golongan nasionalis sekuler seperti Buntaran Martoatmodjo, Ki Hadjar Dewantara, Moh. Hatta, Rasjid, Samsi, R. M. Sartono, Singgih, Soekardjo, Soewandi, Supomo, dan Woerjaningrat (Ichwan, 2011: 5).&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br/&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br/&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot; data-marker=&quot;−&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #ffe49c; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Oleh karena posisi Jepang mulai terjepit dalam perang, Jepang menjanjikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia dengan membentuk Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang resmi dibentuk pada tanggal 29 April 1945. Anggota yang merepresentasikan kelompok Islam adalah Abikoesno Tjokrosoejoso, Ki Bagus Hadikusumo, KH Abdul Wahid Hasyim, Kahar Muzakkir, H. Agus Salim, and KH Ahmad Sanusi. Sedangkan kelompok nasionalis direpresentasikan oleh Sukarno, Mohammad Hatta, Soepomo, dan Muhammad Yamin. Upaya untuk mencapai resolusi mempersiapkan dasar negara tidak bisa diselesaikan oleh BPUPKI sehingga dibentuk Komite Panitia Sembilan yang berdiri pada 10 Juli 1945. Komite tersebut terdiri dari Sukarno, Mohammad Hatta, Achmad Subardjo, Muhammad Yamin, A.A. Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Kahar Muzakkir, Agus Salim dan Wahid Hasjim. Setelah melewati perdebatan yang sangat alot, akhirnya pada 22 Juni 1945 Panitia Sembilan berhasil merumuskan rancangan undang-undang dasar yang kelak disebut sebagai Piagam Jakarta. BPUPKI memfinalisasikannya melalui beberapa perubahan, termasuk mengganti sila pertama dasar negara (Pancasila) dari “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” menjadi “Ketuhanan yang maha esa”. Pada saat rapat memasuki sesi pembahasan sumpah presiden, Abikusno memberikan usul pertama, dan diterima melalui beberapa perubahan. Fakta ini membuat Abikusno juga memperoleh gelar “penggagas sumpah presiden” (Kharisma, 2021).[[File:Anggota Panitia Sembilan.jpg|center|Anggota Panitia Sembilan. (Sumber: Dok. Museum Perumusan Naskah Proklamasi)|link=|thumb|&lt;del style=&quot;font-weight: bold; text-decoration: none;&quot;&gt;499x499px&lt;/del&gt;]]&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot; data-marker=&quot;+&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #a3d3ff; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Oleh karena posisi Jepang mulai terjepit dalam perang, Jepang menjanjikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia dengan membentuk Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang resmi dibentuk pada tanggal 29 April 1945. Anggota yang merepresentasikan kelompok Islam adalah Abikoesno Tjokrosoejoso, Ki Bagus Hadikusumo, KH Abdul Wahid Hasyim, Kahar Muzakkir, H. Agus Salim, and KH Ahmad Sanusi. Sedangkan kelompok nasionalis direpresentasikan oleh Sukarno, Mohammad Hatta, Soepomo, dan Muhammad Yamin. Upaya untuk mencapai resolusi mempersiapkan dasar negara tidak bisa diselesaikan oleh BPUPKI sehingga dibentuk Komite Panitia Sembilan yang berdiri pada 10 Juli 1945. Komite tersebut terdiri dari Sukarno, Mohammad Hatta, Achmad Subardjo, Muhammad Yamin, A.A. Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Kahar Muzakkir, Agus Salim dan Wahid Hasjim. Setelah melewati perdebatan yang sangat alot, akhirnya pada 22 Juni 1945 Panitia Sembilan berhasil merumuskan rancangan undang-undang dasar yang kelak disebut sebagai Piagam Jakarta. BPUPKI memfinalisasikannya melalui beberapa perubahan, termasuk mengganti sila pertama dasar negara (Pancasila) dari “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” menjadi “Ketuhanan yang maha esa”. Pada saat rapat memasuki sesi pembahasan sumpah presiden, Abikusno memberikan usul pertama, dan diterima melalui beberapa perubahan. Fakta ini membuat Abikusno juga memperoleh gelar “penggagas sumpah presiden” (Kharisma, 2021).[[File:Anggota Panitia Sembilan.jpg|center|Anggota Panitia Sembilan. (Sumber: Dok. Museum Perumusan Naskah Proklamasi)|link=|thumb|&lt;ins style=&quot;font-weight: bold; text-decoration: none;&quot;&gt;450x450px&lt;/ins&gt;]]&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br/&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br/&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Pada kabinet pertama Presiden Sukarno, Abikoesno tercatat menduduki kursi Menteri Perhubungan tanggal 19 Agustus 1945. Nama Abikoesno Tjokrosoejoso sempat dikaitkan dengan peristiwa 3 Juli 1946 yang disebut-sebut sebagai usaha kudeta pertama di Indonesia. Ketika itu kelompok Persatuan Perjuangan dibawah pimpinan Tan Malaka melakukan percobaan kudeta untuk menurunkan Kabinet Sjahrir. Namun organisasi tersebut berhasil dibubarkan dan tokoh-tokoh utamanya ditangkap—termasuk Abikoesno. Penahanan Abikoesno sempat berpindah-pindah, antara lain dari Tawangmangu, Ponorogo, lalu ke Madiun. Ia ditahan bersama Moh. Yamin, Buntaran Martoatmodjo, Achmad Subardjo, Iwa Kusuma Sumantri dan Tan Malaka. Para tahanan ini diberi grasi dan dibebaskan pada 17 Agustus 1948.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Pada kabinet pertama Presiden Sukarno, Abikoesno tercatat menduduki kursi Menteri Perhubungan tanggal 19 Agustus 1945. Nama Abikoesno Tjokrosoejoso sempat dikaitkan dengan peristiwa 3 Juli 1946 yang disebut-sebut sebagai usaha kudeta pertama di Indonesia. Ketika itu kelompok Persatuan Perjuangan dibawah pimpinan Tan Malaka melakukan percobaan kudeta untuk menurunkan Kabinet Sjahrir. Namun organisasi tersebut berhasil dibubarkan dan tokoh-tokoh utamanya ditangkap—termasuk Abikoesno. Penahanan Abikoesno sempat berpindah-pindah, antara lain dari Tawangmangu, Ponorogo, lalu ke Madiun. Ia ditahan bersama Moh. Yamin, Buntaran Martoatmodjo, Achmad Subardjo, Iwa Kusuma Sumantri dan Tan Malaka. Para tahanan ini diberi grasi dan dibebaskan pada 17 Agustus 1948.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/table&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://esi.kemenbud.go.id/index.php?title=Abikoesno_Tjokrosoejoso&amp;diff=5988&amp;oldid=prev</id>
		<title>Admin at 09:03, 12 August 2024</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://esi.kemenbud.go.id/index.php?title=Abikoesno_Tjokrosoejoso&amp;diff=5988&amp;oldid=prev"/>
		<updated>2024-08-12T09:03:30Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;&lt;/p&gt;
&lt;table style=&quot;background-color: #fff; color: #202122;&quot; data-mw=&quot;interface&quot;&gt;
				&lt;col class=&quot;diff-marker&quot; /&gt;
				&lt;col class=&quot;diff-content&quot; /&gt;
				&lt;col class=&quot;diff-marker&quot; /&gt;
				&lt;col class=&quot;diff-content&quot; /&gt;
				&lt;tr class=&quot;diff-title&quot; lang=&quot;en&quot;&gt;
				&lt;td colspan=&quot;2&quot; style=&quot;background-color: #fff; color: #202122; text-align: center;&quot;&gt;← Older revision&lt;/td&gt;
				&lt;td colspan=&quot;2&quot; style=&quot;background-color: #fff; color: #202122; text-align: center;&quot;&gt;Revision as of 16:03, 12 August 2024&lt;/td&gt;
				&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td colspan=&quot;2&quot; class=&quot;diff-lineno&quot; id=&quot;mw-diff-left-l12&quot;&gt;Line 12:&lt;/td&gt;
&lt;td colspan=&quot;2&quot; class=&quot;diff-lineno&quot;&gt;Line 12:&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Pada masa pendudukan Jepang di tahun 1942, dibentuk Gerakan 3A yang memiliki semboyan &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Cahaya Asia, &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Pelindung Asia, dan &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Pemimpin Asia. Gerakan tersebut bertujuan menanamkan semangat membela Jepang. Jepang menunjuk Mr. Syamsudin sebagai pemimpin Gerakan 3A. Pada bulan Juli 1942 dibentuk suatu sub seksi Islam dengan Persiapan Persatuan Umat Islam dalam Gerakan 3A. Sebagai ketuanya ialah Abikoesno Tjokrosoejoso. Akan tetapi, ternyata Gerakan 3A tidak mendapat sambutan rakyat dan akhirnya dibubarkan. Sebagai gantinya, dibentuklah organisasi Putera (Pusat Tenaga Rakyat). Abikoesno juga masuk sebagai anggota Putera. Selain itu, pada masa pendudukan Jepang, ia menjadi anggota &amp;#039;&amp;#039;Chuo Sangi-in&amp;#039;&amp;#039; (Dewan pertimbangan pusat) sebagai wakil dari golongan Islam. Anggota lain berasal dari golongan nasionalis sekuler seperti Buntaran Martoatmodjo, Ki Hadjar Dewantara, Moh. Hatta, Rasjid, Samsi, R. M. Sartono, Singgih, Soekardjo, Soewandi, Supomo, dan Woerjaningrat (Ichwan, 2011: 5).&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Pada masa pendudukan Jepang di tahun 1942, dibentuk Gerakan 3A yang memiliki semboyan &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Cahaya Asia, &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Pelindung Asia, dan &amp;#039;&amp;#039;Nippon&amp;#039;&amp;#039; Pemimpin Asia. Gerakan tersebut bertujuan menanamkan semangat membela Jepang. Jepang menunjuk Mr. Syamsudin sebagai pemimpin Gerakan 3A. Pada bulan Juli 1942 dibentuk suatu sub seksi Islam dengan Persiapan Persatuan Umat Islam dalam Gerakan 3A. Sebagai ketuanya ialah Abikoesno Tjokrosoejoso. Akan tetapi, ternyata Gerakan 3A tidak mendapat sambutan rakyat dan akhirnya dibubarkan. Sebagai gantinya, dibentuklah organisasi Putera (Pusat Tenaga Rakyat). Abikoesno juga masuk sebagai anggota Putera. Selain itu, pada masa pendudukan Jepang, ia menjadi anggota &amp;#039;&amp;#039;Chuo Sangi-in&amp;#039;&amp;#039; (Dewan pertimbangan pusat) sebagai wakil dari golongan Islam. Anggota lain berasal dari golongan nasionalis sekuler seperti Buntaran Martoatmodjo, Ki Hadjar Dewantara, Moh. Hatta, Rasjid, Samsi, R. M. Sartono, Singgih, Soekardjo, Soewandi, Supomo, dan Woerjaningrat (Ichwan, 2011: 5).&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br/&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br/&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot; data-marker=&quot;−&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #ffe49c; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Oleh karena posisi Jepang mulai terjepit dalam perang, Jepang menjanjikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia dengan membentuk Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang resmi dibentuk pada tanggal 29 April 1945. Anggota yang merepresentasikan kelompok Islam adalah Abikoesno Tjokrosoejoso, Ki Bagus Hadikusumo, KH Abdul Wahid Hasyim, Kahar Muzakkir, H. Agus Salim, and KH Ahmad Sanusi. Sedangkan kelompok nasionalis direpresentasikan oleh Sukarno, Mohammad Hatta, Soepomo, dan Muhammad Yamin. Upaya untuk mencapai resolusi mempersiapkan dasar negara tidak bisa diselesaikan oleh BPUPKI sehingga dibentuk Komite Panitia Sembilan yang berdiri pada 10 Juli 1945. Komite tersebut terdiri dari Sukarno, Mohammad Hatta, Achmad Subardjo, Muhammad Yamin, A.A. Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Kahar Muzakkir, Agus Salim dan Wahid Hasjim. Setelah melewati perdebatan yang sangat alot, akhirnya pada 22 Juni 1945 Panitia Sembilan berhasil merumuskan rancangan undang-undang dasar yang kelak disebut sebagai Piagam Jakarta. BPUPKI memfinalisasikannya melalui beberapa perubahan, termasuk mengganti sila pertama dasar negara (Pancasila) dari “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” menjadi “Ketuhanan yang maha esa”. Pada saat rapat memasuki sesi pembahasan sumpah presiden, Abikusno memberikan usul pertama, dan diterima melalui beberapa perubahan. Fakta ini membuat Abikusno juga memperoleh gelar “penggagas sumpah presiden” (Kharisma, 2021).[[File:Anggota Panitia Sembilan.jpg|center|Anggota Panitia Sembilan. (Sumber: Dok. Museum Perumusan Naskah Proklamasi)|link=|thumb|&lt;del style=&quot;font-weight: bold; text-decoration: none;&quot;&gt;500x500px&lt;/del&gt;]]&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot; data-marker=&quot;+&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #a3d3ff; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Oleh karena posisi Jepang mulai terjepit dalam perang, Jepang menjanjikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia dengan membentuk Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang resmi dibentuk pada tanggal 29 April 1945. Anggota yang merepresentasikan kelompok Islam adalah Abikoesno Tjokrosoejoso, Ki Bagus Hadikusumo, KH Abdul Wahid Hasyim, Kahar Muzakkir, H. Agus Salim, and KH Ahmad Sanusi. Sedangkan kelompok nasionalis direpresentasikan oleh Sukarno, Mohammad Hatta, Soepomo, dan Muhammad Yamin. Upaya untuk mencapai resolusi mempersiapkan dasar negara tidak bisa diselesaikan oleh BPUPKI sehingga dibentuk Komite Panitia Sembilan yang berdiri pada 10 Juli 1945. Komite tersebut terdiri dari Sukarno, Mohammad Hatta, Achmad Subardjo, Muhammad Yamin, A.A. Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Kahar Muzakkir, Agus Salim dan Wahid Hasjim. Setelah melewati perdebatan yang sangat alot, akhirnya pada 22 Juni 1945 Panitia Sembilan berhasil merumuskan rancangan undang-undang dasar yang kelak disebut sebagai Piagam Jakarta. BPUPKI memfinalisasikannya melalui beberapa perubahan, termasuk mengganti sila pertama dasar negara (Pancasila) dari “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” menjadi “Ketuhanan yang maha esa”. Pada saat rapat memasuki sesi pembahasan sumpah presiden, Abikusno memberikan usul pertama, dan diterima melalui beberapa perubahan. Fakta ini membuat Abikusno juga memperoleh gelar “penggagas sumpah presiden” (Kharisma, 2021).[[File:Anggota Panitia Sembilan.jpg|center|Anggota Panitia Sembilan. (Sumber: Dok. Museum Perumusan Naskah Proklamasi)|link=|thumb|&lt;ins style=&quot;font-weight: bold; text-decoration: none;&quot;&gt;499x499px&lt;/ins&gt;]]&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br/&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br/&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Pada kabinet pertama Presiden Sukarno, Abikoesno tercatat menduduki kursi Menteri Perhubungan tanggal 19 Agustus 1945. Nama Abikoesno Tjokrosoejoso sempat dikaitkan dengan peristiwa 3 Juli 1946 yang disebut-sebut sebagai usaha kudeta pertama di Indonesia. Ketika itu kelompok Persatuan Perjuangan dibawah pimpinan Tan Malaka melakukan percobaan kudeta untuk menurunkan Kabinet Sjahrir. Namun organisasi tersebut berhasil dibubarkan dan tokoh-tokoh utamanya ditangkap—termasuk Abikoesno. Penahanan Abikoesno sempat berpindah-pindah, antara lain dari Tawangmangu, Ponorogo, lalu ke Madiun. Ia ditahan bersama Moh. Yamin, Buntaran Martoatmodjo, Achmad Subardjo, Iwa Kusuma Sumantri dan Tan Malaka. Para tahanan ini diberi grasi dan dibebaskan pada 17 Agustus 1948.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;diff-marker&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background-color: #f8f9fa; color: #202122; font-size: 88%; border-style: solid; border-width: 1px 1px 1px 4px; border-radius: 0.33em; border-color: #eaecf0; vertical-align: top; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div&gt;Pada kabinet pertama Presiden Sukarno, Abikoesno tercatat menduduki kursi Menteri Perhubungan tanggal 19 Agustus 1945. Nama Abikoesno Tjokrosoejoso sempat dikaitkan dengan peristiwa 3 Juli 1946 yang disebut-sebut sebagai usaha kudeta pertama di Indonesia. Ketika itu kelompok Persatuan Perjuangan dibawah pimpinan Tan Malaka melakukan percobaan kudeta untuk menurunkan Kabinet Sjahrir. Namun organisasi tersebut berhasil dibubarkan dan tokoh-tokoh utamanya ditangkap—termasuk Abikoesno. Penahanan Abikoesno sempat berpindah-pindah, antara lain dari Tawangmangu, Ponorogo, lalu ke Madiun. Ia ditahan bersama Moh. Yamin, Buntaran Martoatmodjo, Achmad Subardjo, Iwa Kusuma Sumantri dan Tan Malaka. Para tahanan ini diberi grasi dan dibebaskan pada 17 Agustus 1948.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/table&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
</feed>